Showing posts sorted by relevance for query kajian-teoritis-pembelajaran-matematika. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query kajian-teoritis-pembelajaran-matematika. Sort by date Show all posts

Tuesday, 1 October 2019

Jadi Akil Kajian Teoritis Pembelajaran Matematika Dan Hasil Belajar


Pengertian Pembelajaran Matematika: Pembelajaran yakni upaya untuk membuat iklim dan pelayanan terhadap kemampuan, potensi, minat dan kebutuhan akseptor didik yang bermacam-macam biar terjadi interaksi optimal antara guru dengan siswa serta antara siswa dengan siswa lain. Trianto (2009: 15) menyebutkan bahwa pembelajaran yakni proses yang diselenggarakan oleh guru untuk membelajarkan siswa bagaimana berguru memperoleh dan memproses pengetahuan, keterampilan dan sikap. Dengan melaksanakan pembelajaran siswa diharapkan sanggup mengalami perubahan tingkah laris contohnya dari tidak bisa menjadi bisa bahkan sanggup menambah pengetahuan bernalarnya dan kemampuan berpikir kritis.

Matematika mempunyai ciri-ciri penting yaitu mempunyai objek yang ajaib dan mempunyai referensi pikir yang deduktif maksudnya kebenaran suatu konsep matematika atau pernyataan yang diperoleh sebagai akhir logis dari kebenaran sebelumnya sehingga kaitan antara konsep atau pernyataan dalam matematika bersifat konsisten. hakekat matematika yakni ide, struktur dan relasi yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep, prisip dan keterampilan.
Pembelajaran matematika di sekolah diubahsuaikan dengan kekhasan dengan mempertimbangkan tingkat perkembangan berpikir siswa. Pembelajaran matematika di sekolah mencakup 3 aspek yaitu aspek kognitif, aspek afektif dan aspek psikomotor. Pengukuran ketiga aspek ini dilakukan secara serempak, terus menerus dan berkesinambungan sehingga siswa menguasai konsep dasar.

Dari uraian-uraian di atas maka, pembelajaran matematika yakni proses interaksi guru dengan siswa serta siswa dengan siswa lain untuk memperoleh dan memperoses pengetahuan, keterampilan dan sikap sehingga sanggup mengalami perubahan sikap dan tingkah laris demi tercapainya hasil berguru matematika sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Pengertian Hasil Belajar


Hasil Belajar yakni pola-pola perbuatan, nilai-nilai, pengertian-pengertian, sikap-sikap, apresiasi dan keterampilan. Menurut pemikiran Gagne hasil berguru yakni :

  1. Informasi verbal yaitu kapabilitas mengungkapkan pengetahuan dalam bentuk bahasa, baik verbal maupun tertulis. Kemampuan merespons secara spesifik terhadap rangsanngan spesifik.
  2. Keterampilan intelektual yaitu kemampuan mempresentasikan konsep dan lambang atau kemampuan analitis-sintesis fakta-konsep dan membuatkan prinsip-prinsip keilmuan.
  3. Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan kegiatan kognitifnya sendiri atau kemampuan yang mencakup penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
  4. Keterampilan motorik yaitu kemampuan melaksanakan serangkaian gerak jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
  5. Sikap yakni kemampuan mendapatkan atau menolak objek berdasarkan evaluasi terhadap objek tersebut atau kemampuan menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai sebagai standart perilaku.

Menurut Bloom hasil berguru yakni kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Kognitif yakni pengetahuan, pemahaman, menerapkan, menguraikan, merencanakan dan menilai. Afektif yakni sikap menerima, menawarkan respons, nilai, organisasi dan karakterisasi. Psikomotor yakni keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial dan intelektual.

Sementara berdasarkan lindgren hasil pembelajaran mencakup kecakapan, informasi, pengertian dan sikap.

Jadi, hasil berguru yakni perubahan sikap secara keseluruhan bukan hanya salah satu aspek potensi kemanusian saja. Artinya, hasil pembelajaran yang dikategorisasi oleh para pakar pendidikan sebagaimana diatas tidak dilihat secara fragmentaris atau terpisah, melainkan komprensif.

Tujuan Pembelajaran Matematika


Tujuan pembelajaran matematika yakni terbentuknya kemampuan bernalar pada diri siswa yang tercermin melalui kemampuan berpikir kritis, logis, sistimatis dan mempunyai sifat obyektif, jujur, disiplin dalam memecahkan suatu permasalahan baik dalam bidang matematika, bidang lain, maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Sedangkan tujuan mata pelajaran matematika menyerupai yang tertuang dalam Standar Isi (SI) Mata Pelajaran Matematika untuk semua satuan pendidikan Dasar dan Menengah adalah:

  1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan sempurna dalam pemecahan masalah.
  2. Menggunakan kebijaksanaan budi pada referensi dan sifat, melaksanakan manipulasi matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti, atau menjelaskan gagasan dan pernyataan matematika.
  3. Memecahkan duduk kasus yang mencakup kemampuan memahami masalah, merancang model matematika, menuntaskan model, dan menafsirkan solusi yang diperoleh.
  4. Mengkomunikasikan gagasan dengan simbol, tabel, diagram, atau media lain untuk memperjelas keadaan atau masalah.
  5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu rasa ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.

Komponen Pembelajaran Matematika


Proses berguru mengajar matematika yang lebih dikenal dengan istilah pembelajaran matematika merupakan suatu sistem kerja yang terdiri dari beberapa komponen yang saling terkait satu dengan lainnya sehingga tujuan tercapai. Adapun proses pembelajaran matematika mengandung sejumlah komponen yang meliputi:

  1. Tujuan; yakni suatu harapan yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan dalam hal ini yakni tujuan pembelajaran matematika. Tujuan pembelajaran ini yakni komponen yang sanggup mensugesti komponen pembelajaran lainnya.
  2. Bahan Pelajaran; yakni substansi yang akan disampaikan dalam proses berguru mengajar. Tanpa materi pelajaran proses pembelajaran tidak akan berjalan. Bahan pelajaran ini terdiri dari materi pelajaran pokok dan materi pelajaran pelengkap. Bahan pelajaran pokok yakni materi pelajaran yang menyangkut bidang studi atau mata pelajaran yang dipegang oleh guru sesuai dengan disiplin keilmuaannya. Dalam hal ini yakni materi pelajaran matematika. Sedangkan materi pelajaran komplemen yakni wawasan keilmuwan yang menunjang penyampaian materi pelajaran pokok.
  3. Kegiatan berguru mengajar; yakni inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran ini akan melibatkan semua komponen pengajaran. Selain itu, proses pembelajaran akan memilih sejauh mana tujuan yang telah ditetapkan sanggup tercapai.
  4. Metode; yakni suatu cara yang diperguanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam proses pembelajaran, metode diharapkan oleh guru dan penggunaannya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai sesudah proses pembelajaran selesai.
  5. Alat; yakni segala sesuatu yang sanggup dipakai dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Sebagai segala sesuatu yang sanggup dipakai dalam mencapai tujuan pembelajaran, alat mempunyai fungsi, yaitu alat sebagai perlengkapan, alat sebagai pembantu mempermudah perjuangan mencapai tujuan, dan alat sebagai tujuan.
  6. Sumber pelajaran; yakni sesuatu yang sanggup dipergunakan sebagai daerah di mana materi pelajaran berada atau asal untuk berguru seseorang. Dengan demikian sumber pelajaran itu merupakan materi atau materi untuk menambah ilmu pengetahuan yang mengandung hal-hal gres bagi pembelajar.
  7. Evaluasi; yakni suatu tindakan atau suatu proses memilih nilai dari sesuatu dalam hal ini yakni hasil berguru siswa sesudah proses pembelajaran.

Referensi :
Pengambangan Kurikulum dan Pembelajaran Matematika. Malang: Universitas Negeri Malang, 2001
Evaluasi Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2012

Jadi Akil Kajian Teoritis Perihal Pembelajaran Matematika


Pengertian Pembelajaran Matematika. Pembelajaran matematika yaitu salah satu mata pelajaran yang tidak lepas dari soal-soal yang harus diselesaikan. Upaya yang dilakukan guru untuk membuat suasana berguru yang menyenangkan yang sanggup merangsang minat berguru siswa, Sehingga mempermudah siswa dalam memahami konsep matematika serta kesannya sanggup lebih optimal.

Pada kegiatan berguru mengajar, dikenal adanya tujuan pembelajaran. Pembelajaran merupakan panduan dari dua acara mengajar dan acara belajar. Aktivitas mengajar menyangkut peranan guru dalam konteks mengupayakan terciptanya jalinan komunikasi serasi antara berguru dan mengajar. Jalinan komunikasi ini menjadi indikator suatu acara atau proses pembelajaran yang berlangsung dengan baik. Dengan demikian tujuan pembelajaran yaitu tujuan dari suatu proses interaksi antara guru dan siswa dalam kegiatan berguru mengajar dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.

Tujuan Pembelajaran Matematika


Tujuan pembelajaran matematika di sekolah mengacu kepada fungsi matematika serta kepada tujuan pendidikan nasional yang telah dirumuskan dalam Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Diungkapkan dalam Garis Besar Program Pengajaran (GBPP) matematika, bahwa tujuan umum diberikannya matematika pada jenjang pendidikan dasar dan menengah mencakup dua hal, yaitu:

  1. Mempersiapkan siswa biar sanggup menghadapi perubahan keadaan di dalam kehidupan dan di dunia yang selalu berkembang, melalui latihan bertindak atas dasar pemikiran secara logis, rasional, kritis, cermat, jujur, efektif, dan efisien.
  2. Mempersiapkan siswa biar sanggup memakai matematika dan contoh pikir matematika dalam kehidupan sehari-hari, dan dalam mempelajari aneka macam ilmu pengetahuan.

Setiap mata pelajaran mempunyai tujuan pembelajaran tertentu sesuai dengan tingkatan dan jenjangnya masing-masing. Begitupun matematika juga mempunyai tujuan pelajaran sesuai dengan tingkatannya. Adapun tujuan dari pembelajaran matematika yaitu agar:

  1. Siswa mempunyai pengetahuan matematika sebagai bekal untuk melanjutkan ke pendidikan tinggi
  2. Siswa mempunyai keterampilan matematika sebagai peningkatan matematika pendidikan dasar untuk sanggup dipakai dalam kehidupan yang lebih luas (di dunia kerja) maupun dalam kehidupan sehari-hari
  3. Siswa mempunyai pandangan yang lebih luas serta mempunyai perilaku menghargai kegunaan matematika, perilaku kritis, logis, objektif, terbuka, kreatif, serta inovatif
  4. Siswa mempunyai kemampuan yang sanggup dialihgunakan (transferable) melalui kegiatan matematika di SMA.

Aspek-Aspek Pembelajaran Matematika


Pembelajaran matematika merupakan suatu sistem yang terdiri atas aneka macam komponen yang saling bekerjasama dan mempengaruhi. Komponen tersebut yaitu guru, siswa, tujuan, materi, metode, dan evaluasi. Makara sanggup disimpulkan bahwa komponen pembelajaran merupakan kumpulan dari beberapa item yang saling berhungan satu sama lain yang terpenting dalam proses berguru dan mengajar. Di dalam pembelajaran, terdapat komponen-komponen yang berkait dengan proses pembelajaran :

  1. Tujuan : Tujuan pembelajaran tidak terlepas dari tuntutan zaman dan kebutuhan. Hal ini dikarenakan bahwa pendekatan dirancang sedemikian rupa, guna memenuhi kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman. Selain itu, tujuan pembelajaran bersifat kognitif, afektif, dan psikomotor.
  2. Kurikulum : Secara terminologis, istilah kurikulum mengandung arti sejumlah pengetahuan atau mata pelajaran yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa guna untuk mencapai suatu tingkatan. Kurikulum secara luas tidak hanya berupa mata pelajaran atau bidang studi dan kegiatan mahasiswa, tetapi juga segala sesuatu yang besar lengan berkuasa terhadap pembentukan pribadi siswa sesuai dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.
  3. Guru : Guru memegang peranan penting dalam kegiatan berguru mengajar. Karena mereka yaitu salah satu pembentuk siswa yang berkarakter dan berakhlak mulia. Peranan guru tidak hanya terbatas sebagai pengajar (penyampai ilmu pengetahuan), tetapi juga sebagai pembimbing, pengembang, dan pengelola kegiatan pembelajaran yang sanggup memfasilitasi kegiatan berguru siswa dalam mencapai tujuan yang diharapkan.
  4. Siswa : Siswa atau murid biasanya dipakai bagi seseorang yang mengikuti suatu agenda pendidikan di sekolah atau di forum tertentu di bawah bimbingan guru. Meskipun demikian, siswa bukan sebagai objek berguru yang tidak tau apa-apa, alasannya yaitu ia mempunyai latar belakang, minat, dan kebutuhan serta kemampuan yang berbeda.
  5. Metode : Metode pembelajaran yaitu cara yang sanggup dilakukan untuk membantu proses belajar-mengajar biar berjalan dengan baik.
  6. Materi : Materi juga merupakan salah satu faktor penentu keterlibatan siswa. Kegiatan belajar, materi harus didesain sedemikian rupa, sehingga cocok untuk mencapai tujuan denga memperhatikan komponen-komponen yang lain, terutama komponen anak didik yang merupakan sentral. Dalam pemilihan materi harus benar-benar sanggup memperlihatkan kecakapan dalam memecahkan problem kehidupan sehari-hari.
  7. Alat / media pembelajaran : Media merupakan alat, benda atau seperangkat komponen yang sanggup dipakai sebagai sarana dalam memberikan informasi, pesan atau alat yang dipakai untuk berkomunikasi, sehingga gosip tersebut sanggup diterima dengan baik oleh penerima. Oleh alasannya yaitu itu, media sangat berperan dalam mempermudah pekerjaan manusia.
  8. Evaluasi : Kemampuan dalam mempertimbangkan nilai untuk maksud tertentu menurut kriteria internal dan eksternal. Evaluasi hendaknya dilaksanakan secara komprehensif, obyektif, kooperatif, dan afektif yang hendaknya berpedoman pada tujuan dan materi pembelajaran. Contohnya menilai hasil karya orang lain, mengapresiasikan hasil karya seni, dan membuat justifikasi suatu fenomena yang terjadi dilingkungan sosial.(Syarifatul Laily)

Referensi : Strategi pembelajaran matematika kontemporer. Malang: Jica 2003

Sunday, 13 October 2019

Jadi Arif Kajian Teoritis Wacana Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw


Pengertian Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw. Di dalam acara proses berguru mengajar, guru matematika bisa memakai model pembelajaran yang bisa menciptakan siswa ikut aktif di dalam acara proses berguru mengajar dan juga merasa tertarik dengan pelajaran matematika. Salah satu model pembelajaran yang bisa dipakai oleh guru yaitu model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw.

Dalam penerapan jigsaw ini, siswa dibagi dalam bentuk kelompok dengan 4 atau 5 anggota kelompok berguru yang heterogen. Mulai dari tingkat kemampuan, jenis kelamin, suku/ ras yang berbeda. Materi pelajaran diberikan dalam bentuk teks. Setiap anggota bertanggung jawab untuk mempelajari penggalan tertentu materi yang diberikan itu.

Anggota dari kelompok lain yang menerima kiprah topik yang sama berkumpul dan berdiskusi mengenai topik tersebut, kelompok ini disebut kelompok ahli. Selanjutnya anggota kelompok hebat kembali ke kelompok asal, dan mengajarkan kembali apa yang telah dipelajarinya dan didiskusikan di dalam kelompok ahlinya untuk diajarkan kepada sobat kelompok asal. Setelah diadakan pertemuan dan diskusi dalam kelompok asal, masing - masing siswa dikenai kuis mengenai materi yang telah dipelajari.

Langkah-Langkah Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Jigsaw


  1. Siswa dibagi atas beberapa kelompok (tiap kelompok anggotanya 5-6 orang).
  2. Materi pelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah dibagi - bagi menjadi beberapa sub bab.
  3. Setiap anggota kelompok membaca sub penggalan yang ditugaskan dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya.
  4. Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub penggalan yang sama bertemu dalam kelompok-kelompok hebat untuk mendiskusikannya.
  5. Setiap anggota kelompok hebat sehabis kembali ke kelompoknya bertugas mengajar sobat - temannya.
  6. Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa - siswa dikenai tagihan berupa kuis individu.
  7. Penghargaan kelompok, Guru memberikan penghargaan kepada salah satu kelompok yang nilainya lebih tinggi dari kelompok yang lain.

Kelebihan dan Kelemahan Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw


  1. kelebihan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw
    Belajar kooperatif sangat efektif untuk memperbaiki kekerabatan antar suku dan etnis dalam kelas multibudaya dan memperbaiki kekerabatan antara siswa normal dan siswa penyandang cacat. Davidson (1991) memberikan sejumlah implikasi aktual dalam berguru matematika dengan memakai model berguru kooperatif, yaitu sebagai berikut:
    • Kelompok kecil memberikan santunan sosial untuk berguru matematika.
    • Kelompok kecil memperlihatkan kesempatan untuk sukses bagi semua siswa dalam matematika
    • Masalah matematika idealnya cocok untuk diskusi kelompok, lantaran mempunyai solusi yang sanggup didemonstrasikan secara objektif
    • Siswa dalam kelompok sanggup membantu siswa lain untuk menguasai masalah-masalah dasar dan mekanisme perhitungan yang perlu dalam konteks permainan, teka-teki, atau pembahasan masalah-masalah yang bermanfaat.
  2. Kelemahan model Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw
    • Prinsip utama contoh pembelajaran ini ialah “peer teaching”, pembelajaran oleh sobat sendiri, ini akan menjadi hambatan lantaran perbedaan persepsi dalam memahami suatu konsep yang akan di diskusiskan bersama dengan siswa lain.
    • Dirasa sulit meyakinkan siswa untuk bisa berdiskusi memberikan meteri pada teman, bila siswa tidak punya rasa percaya diri.
    • Rekod siswa perihal nilai, kepribadian, perhatian siswa harus sudah dimiliki oleh pendidik dan ini biasanya membutuhkan waktu yang cukup usang untuk mengenali tipe-tipe siswa dalam kelas tersebut.
    • Awal penggunaan model ini biasanya sulit dikendalikan, biasanya butuh waktu yang cukup dan persiapan yang matang sebelum model pembelajaran ini bisa berjalan dengan baik
  3. Upaya Mengatasi Kelemahan model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw ialah sebagai berikut :
    • Guru menunjukan terlebih dahulu materi yang akan didemontrasikan secara singkat dan terperinci disertai dengan aplikasinya
    • Mengoptimalisasi waktu dengan cara memberi batasan dalam pembuatan pertanyaan dan menjawab pertanyaan.
    • Guru harus lebih bersahabat terhadap muridnya biar sanggup mengetahui kemampuan masing-masing siswanya
    • Guru harus sanggup mengatur waktu untuk memakai model pembelajaran tipe jigsaw tersebut.

Referensi :
Pengukuran dan Penilaian Pendidikan. Malang : YP2LPM 1984
Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya dalam KBK. Maling : Universitas Negeri Malang 2003