Showing posts with label Referensi. Show all posts
Showing posts with label Referensi. Show all posts

Tuesday, 1 October 2019

Jadi Cerdik Tugas Dan Fungsi Pendidikan Islam Bagi Kehidupan


Pendidikan agama Islam pada sekolah mempunyai peranan yang sangat strategis dalam sistem pendidikan nasional, terutama dalam rangka membangun abjad bangsa yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia. PAI berfungsi membentuk rakyat Indonesia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia dan bisa menjaga kedamaian dan kerukunan kekerabatan inter dan antar umat beragama.

Fungsi PAI ini selaras dengan fungsi pendidikan nasional, yaitu menyebarkan kemampuan dan membentuk tabiat serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi penerima didik semoga menjadi insan yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) di sekolah dituntut lebih dari itu, yakni tidak saja memungkinkan penerima didik sanggup menyebarkan potensi yang dimiliki serta sanggup memahami dan menghayati aliran agama Islam secara baik dan benar, namun juga menanamkan nilai-nilai luhur aliran agama Islam sebagai landasan moral, etika, dan adab mulia, dalam kerangka pembentukan sikap dan watak, serta sikap akhlakul karimah penerima didik melalui aneka macam seni administrasi dan model pembelajaran yang dikembangkan serta pola keteladanan (uswah hasanah) yang ditampilkan GPAI dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kata lain, GPAI dibutuhkan tidak hanya sanggup melaksanakan transfer of knowledge (transfer pengetahuan), namun juga yang lebih penting sanggup secara baik melaksanakan transfer of values dan ethics (transfer nilai dan etika). Upaya transfer of values atau ethics kini ini merupakan suatu keharusan dan menjadi kebutuhan mendesak dalam kerangka menegakkan kembali nilai-nilai spirituil dan jati diri bangsa Indonesia ditengah aneka macam krisis yang sedang melanda bangsa Indonesia.

Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) yakni pendidik profesional dengan kiprah utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, memberi teladan, menilai dan mengevaluasi penerima didik.

Kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad globalisasi yang pesat melahirkan tantangan pada aneka macam aspek kehidupan umat insan tidak terkecuali pada kehidupan beragama. Kondisi demikian menuntut guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) bisa berperan menampilkan nilai-nilai Islam yang lebih dinamis dan aplikatif.

Pendidikan agama Islam yang disajikan tidak hanya terfokus pada penguasaan ranah kognitif belaka, akan tetapi juga menyentuh ranah afektif dan psikomotorik. Pembentukan karakter, dalam hal ini, menjadi target utama dalam pendidikan agama Islam. Dengan demikian, dibutuhkan terwujudnya generasi bangsa yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia sebagaimana yang di amanatkan oleh Undang-Undang Dasar 1945.

Pada abad globalisasi ini, dunia pendidikan juga telah mengalami perkembangan yang pesat, khususnya dalam bidang teknologi pembelajaran. Model pengajaran yang lebih menonjolkan kiprah guru (teacher centered learning) telah jauh ditinggalkan di banyak forum pendidikan. Untuk kemudian digantikan dengan pembelajaran yang lebih mengutamakan kiprah penerima didik (students centered learning).

Hal ini berdampak pada berkembangnya model-model pembelajaran yang lebih menampilkan keaktifan penerima didik. Model semacam ini terbukti bisa meng-akomodir pengembangan kreatifitas penerima didik. Secara factual, penerima didik menjadi lebih aktif, termotivasi, serta garang dalam membuat pengalaman belajarnya sendiri.

Jadi Cerdik Pentingnya Psikologi Pendidikan Bagi Guru


Arti pentingnya psikologi pendidikan bagi guru, hal ini merupakan sebuah kebutuhan penting yang merupakan ilmu terapan dari dua disiplin ilmu yang berbeda adalah psikologi dan pendidikan. Seorang guru harus menguasai kedua disiplin ilmu tersebut, biar sanggup mengetahui pentingnya manfaat psikologi pendidikan dan menerapkannya.

Guru dalam menjalankan kiprahnya sebagai pembimbing, pendidik dan instruktur bagi para penerima didiknya, tentunya dituntut memahami wacana banyak sekali sikap dirinya maupun sikap orang-orang yang terkait dengan tugasnya, terutama sikap penerima didik, sehingga sanggup menjalankan kiprah dan kiprahnya secara efektif, yang pada gilirannya sanggup memperlihatkan bantuan konkret bagi pencapaian tujuan pendidikan di sekolah.

Di sinilah arti penting Psikologi Pendidikan bagi guru. Penguasaan guru wacana psikologi pendidikan merupakan salah satu kompetensi yang harus dikuasai guru, dengan memahami psikologi pendidikan, seorang guru melalui pertimbangan – pertimbangan psikologisnya diperlukan dapat:

1. Merumuskan tujuan pembelajaran secara tepat


Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diperlukan guru akan sanggup lebih sempurna dalam memilih bentuk perubahan sikap yang dikehendaki sebagai tujuan pembelajaran. Misalnya, dengan berusaha mengaplikasikan pemikiran Bloom wacana taksonomi sikap individu dan mengaitkannya dengan teori-teori perkembangan individu.
Memilih taktik atau metode pembelajaran yang sesuai

Dengan memahami psikologi pendidikan yang memadai diperlukan guru sanggup memilih taktik atau metode pembelajaran yang sempurna dan sesuai, dan bisa mengaitkannya dengan karakteristik dan keunikan individu, jenis berguru dan gaya berguru dan tingkat perkembangan yang sedang dialami siswanya.

2. Memberikan bimbingan atau bahkan memperlihatkan konseling


Tugas dan kiprah guru, di samping melaksanakan pembelajaran, juga diperlukan sanggup membimbing para siswanya. Dengan memahami psikologi pendidikan, tentunya diperlukan guru sanggup memperlihatkan santunan psikologis secara sempurna dan benar, melalui proses korelasi interpersonal yang penuh kehangatan dan keakraban.

3. Memfasilitasi dan memotivasi berguru penerima didik


Memfasilitasi artinya berusaha untuk menyebarkan segenap potensi yang dimiliki siswa, menyerupai bakat, kecerdasan dan minat. Sedangkan memotivasi sanggup diartikan berupaya memperlihatkan dorongan kepada siswa untuk melaksanakan perbuatan tertentu, khususnya perbuatan belajar. Tanpa pemahaman psikologi pendidikan yang memadai, sepertinya guru akan mengalami kesulitan untuk mewujudkan dirinya sebagai fasilitator maupun motivator berguru siswanya.

4. Menciptakan iklim berguru yang kondusif


Efektivitas pembelajaran membutuhkan adanya iklim berguru yang kondusif. Guru dengan pemahaman psikologi pendidikan yang memadai memungkinkan untuk sanggup membuat iklim sosio-emosional yang aman di dalam kelas, sehingga siswa sanggup berguru dengan nyaman dan menyenangkan.

5. Berinteraksi secara sempurna dengan siswanya


Pemahaman guru wacana psikologi pendidikan memungkinkan untuk terwujudnya interaksi dengan siswa secara lebih bijak, penuh tenggang rasa dan menjadi sosok yang menyenangkan di hadapan siswanya.

6. Menilai hasil pembelajaran yang adil dan akurat


Pemahaman guru wacana psikologi pendidikan sanggup mambantu guru dalam menyebarkan evaluasi pembelajaran siswa yang lebih adil, baik dalam teknis penilaian, pemenuhan prinsip-prinsip evaluasi maupun memilih teknik-teknik evaluasi yang akurat.
Referensi:
Suryabrata, Sumadi.Drs. 2002. Psikologi Pendidikan, Yogyakarta, UGM
Oemar Hamalik. 2002. Psikologi Belajar dan Pengajaran | Sinar Baru Algesindo Offset
Djamarah, Drs. Syaiful Bahri.(2007). Psikologi berguru | PT Rineka Cipta.

Jadi Pintar 4 Kompetensi Guru Yang Harus Ditingkatkan


Visi Indonesia ialah terwujudnya Indonesia yang jujur, mandiri, berkepribadian, dan berlandaskan gotong royong. Dalam hal ini, visi Pendidikan Islam ialah terwujudnya siswa yang cerdas, religius, kompetetif, demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang sanggup bangkit diatas kaki sendiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong. Berdasarkan visi tersebut, Kementerian Agama menurunkan menjadi misi yang bermuara pada tiga pilar, menyerupai pemerataan saluran pendidikan, peningkatan mutu, tata kelola dan akuntabilitas. Program-program yang ada pada Ditjen Pendidikan Islam diubahsuaikan dengan misi tersebut.

"Beberapa tahun yang akan datang, terdapat perubahan nomenklatur pada PAI. PAI akan diperluas, bukan hanya pada sekolah, melainkan pada forum lain menyerupai LAPAS, Akademi Militer, Kelautan, dan kursus," tegas Ishom. Dalam konteks PAI, Ishom memberikan bahwa guru harus memahami beberapa regulasi yang berkaitan dengan dirinya.

Guru ialah pendidikan profesional, bukan ilmuwan yang meneliti dan membuatkan ilmu. Pintar belum tentu menguasai kemampuan mengajar yang baik, akhirnya harus mengetahui tatacara mengajar yang baik, keterampilan mengajar harus sering di-update. Kompetensi guru, dalam hal ini, yang harus dikembangkan ialah kompetensi pedagogik. "Guru harus benar-benar paham dalam membuatkan pembelajaran," lanjut Ishom. Sekarang ini, kita krisis guru yang cerdas mengajar. Kompetesi pedagogik sekarang menjadi hal yang menjadi sorotan terutama berkaitan dengan degradasi kompetensi ini.

Penguasaan materi penting juga dengan memperbaharui ilmu yang akan diajarkan oleh guru. Materi yang diajarkan juga harus selalu di-update, lantaran ilmu pengetahuan mengalami perkembangan sesuai perubahan zaman. Kemampuan ini termasuk pada pengembangan kompetensi profesional. Selain itu, kompetensi kepribadian terutama integritas dalam keilmuan harus ditingkatkan. Kompetensi sosial dituntut pula untuk ditingkatkan.

Revolusi mental di Kemenag dikembangkan dengan 5 budaya kerja, yaitu integritas, kreatifitas, inovasi, tanggung jawab, dan keteladanan.

Monday, 30 September 2019

Jadi Bakir Renungan Untuk Para Orang Tua


Renungan Untuk Para Orang Tua. Sebenarnya ini hanya untuk kalangan sendiri, bukan musik yang biasa tersebar dimana-mana tapi sebuah rekaman sebuah program tamat tahun Pondok Pesantren Sidogiri. MP3 ini di dedikasikan untuk para wali santri Sidogiri sebagai renungan akan tanggung jawabnya terhadap anak-anaknya yang di mondokkan di PP. Sidogiri.

Namun aku merasa ini juga perlu didengarkan ke semua kalangan khususnya untuk orang renta yang menginginkan anaknya mempunyai ilmu yang bermanfaat.

Teks puisi :

Kepada wali santri
Engkau jauh-jauh kemari menitipkan anakmu pada kyai
Engkau jauh-jauh kemari menggantungkan impian pada sidogiri
Engkau jauh-jauh kemari mengirim kebutuhan anakmu setiap bulan
Dan engkau jauh-jauh kemari mendatangi setiap panggilan undangan
Semoga ketulusan diterima dan anakmu mulya

Mungkin engkau titipkan anakmu disini biar sanggup mendalami ilmu agama
Mungkin engkau titipkan anakmu disini biar sanggup hidup mulya
Mungkin engkau titipkan anakmu disini biar kondusif dari perbuatan bebas yang lepas
Atau mungkin engkau titipkan anakmu disini biar hidupmu yang bebas dan lepas
Tak ada yang tahu, hanya Allah dan hatimu

Setiap anak lahir dalam keadaan suci
Lalu orang renta yang sanggup membawanya
Menjadi yahudi, nasrani, atau majasi atau tetap suci
Terserah kamu orang renta kemana anakmu akan kamu bawa
Pada kyai ataukah pada pencuri
Terserah kamu orang renta kemana anak-anakmu akan kamu bawa
Apakah hidup mulya atau hidup yang hina

Mungkin engkau telah mendidiknya sebelum kemari
Maka izinkanlah sidogiri mendidiknya dengan caranya sendiri
Mungkin juga engkau tidak sempat mendidiknya
Maka izinkanlah sidogiri mendidiknya sebelum engkau mati

Dan ketika kematianmu tiba
Apakah yang akan engkau pertaruhkan
Harta, tahta, semua sirna, semua tak kamu bawa semuanya hampa
Kecuali engkau punya amal ibadah
Kecuali engkau punya amal jariyah
Kecuali engkau punya ilmu manfaat
Atau engkau punya anak Sholeh dan sholehah
Lalu, sudah kamu memilikinya?

Meski engkau bukan siapa-siapa
Insya Allah anakmu mulya dan memulyakanmu
Setelah anakmu kamu mondokkan

Wali santri, ketika anakmu engkau titipkan disini
Maka anakmu menjadi milik kyai Bukan hanya menjadi milikmu
Kyai sidogiri bukan hanya yang masih ada
Yang sanggup engkau temui di dalem-dalemnya
Kyai sidogiri juga mereka yang sudah tiada
Yang hanya sanggup kamu temui di pesarean-pesareannya

Kyai sulaiman kyai aminullah kyai mahalli
Kyai nur hasan bin nur khotim
Kyai bahar bin nur hasan kyai nawawi bin nur hasan
Kyai abdul jalil bin fadzil kyai kholil nawawi
Kyai abd adzim bin urip kyai nur hasan nawawi
Kyai shiroj nawawi kyai sa’dullah nawawi
Kyai hasani bin nawawi dan kyai abdul alim bin abdul jalil
Mereka yaitu yang mengayomi anak-anakmu

Izinkanlah kyai-kyai mengayomi anak-anakmu
Izinkanlah majelis keluarga bermusyawaroh untuk kebaikan anakmu
Izinkanlah pengurus-pengurus pondok mengurus anak-anakmu
Izinkanlah guru-guru mengajar anakmu
Izinkanlah… Izinkanlah…

Engkau mempercayai kyai untuk kamu titipi anakmu
Dan kyai mempercayai pengurus untuk mengurus anak-anakmu
Sidogiri punya undang-undang dasar
Sidogiri punya peraturan-peraturan
Sidogiri punya pilihan dan kebijakan
Maka arahkan anakmu untuk mematuhinya

Sidogiri ajarkan ilmu agama
Sidogiri ajarkan tatakrama
Sidogiri ajarkan taat
Dan sidogiri juga ajarkan tawadu’
Maka arahkan anak-anakmu untuk mematuhinya dan mengamalkannya

Semoga niat tulusmu memondokkan anakmu dibalas Allah
Dengan ilmu untuk anakmu dan pahala untukmu
Semoga kepercayaanmu dibalas Allah
Dengan kemulyaan untuk anakmu dan kebahagiaan untukmu
Semoga ......

Download Mp3

Jadi Berilmu Psikologi Anak Dalam Kehidupan Sosial


Psikologi Anak Dalam Kehidupan Sosial. Perbedaan fase perkembangan status sosial di dunia bawah umur dalam persahabatan dan mendapat mitra bermain di lingkungan sekolah dan di luar lingkungan sekolah, berbeda dengan pengertian persahabatan yang terjadi pada orang dewasa, untuk orang sampaumur persahabatan yakni suatu ikatan kekerabatan dengan orang lain, di mana kepercayaan, pengertian, pengorbanan dan saling membantu satu sama lainnya akan terjalin dalam periode yang lama, sedangkan di dunia bawah umur tidak menyerupai halnya yang terjadi pada orang dewasa, di dunia bawah umur persahabatan terjalin tidak untuk waktu yang lama, terkadang jika terjadi dilema yang kecil saja, jalinan persahabatan tersebut akan terputus.

Ada dua metode penelitian untuk mengetahui arti persahabatan dan mitra bermain di dalam dunia bawah umur :

  1. Dengan cara kita mengajukan beberapa pertanyaan, seperti: Siapa sahabat dekatmu? kenapa beliau ? apa yang kau senangi dari dia?
  2. Dengan cara kita bercerita ihwal persahabatan, kemudian kedua orang sahabat tersebut bertengkar alasannya yakni mereka tidak sanggup menuntaskan masalahnya dengan baik.

Dari kedua metode tersebut, metode yang nomor dua kita akan banyak mendapat informasi, kemudian kita olok-olokan pertanyaan kepada anak ; Harus bagaimanakah situasi itu diselesaikan? Dari banyak informasi yang diberikan anak tersebut, kita akan mendapat kesimpulan yang kita bagi dalam beberapa fase, menyerupai ;

Fase pertama. Teman untuk bermain


Teman bermain untuk usia anak antara 5 hingga 7 tahun.
Bagi mereka, sahabat yakni seseorang yang memiliki mainan yang menarik yang kawasan tinggalnya erat di sekitar mereka, dan mereka memiliki ketertarikkan yang sama. Kepribadian dari sahabat tersebut tidak menjadi masalah, yang terpenting bagi mereka yakni aktivitas dan mainan apa yang mereka miliki, persahabatan mereka akan terputus apabila salah seorang dari anak tersebut tidak mau bermain lagi dengan anak lainnya alasannya yakni kejenuhan dan kebosanan, persahabatan mereka akan secepat mungkin terputus dan terbina kembali begitu saja.

Contoh percakapan yang sering kita temui pada bawah umur usia 5 hingga 7 tahun, antara lain mengenai menyebarkan makanan, misalnya: “Kalau kau memberi saya coklat, kau temanku lagi” Dalam usia ini mereka dengan gampangnya menyampaikan ihwal berteman, biasanya percakapan mereka dimulai dengan perkataan “namamu siapa ? dan namaku......” dan mereka sanggup begitu saja berteman sesudah saling mengetahui nama masing-masing.

Fase kedua. Teman untuk bersama


Teman bermain dan membangun kepercayaan, untuk usia anak antara 8 hingga 10 tahun.
Dalam usia mereka ini, pengertian sahabat sedikit lebih luas dari pada fase pertama, alasannya yakni arti sahabat bagi mereka sudah melangkah ke perasaan saling percaya, saling membutuhkan dan saling mengunjungi.

Dalam fase ini seorang anak untuk mendapat sahabat tidak segampang anak pada fase pertama, alasannya yakni mereka harus ada kemauan berteman dari kedua belah pihak. Mereka tidak akan mau berteman lagi sesudah di antara mereka timbul masalah, menyerupai ;

  • Salah seorang di antara mereka ada yang melanggar akad
  • Salah seorang di antara mereka ada yang terkena gosip
  • Salah seorang di antara mereka tidak mau membantu, disaat temannya tersebut membutuhkan pertolongan.

Percakapan yang sering kita temui pada fase kedua ini, misalnya: “Kenapa kau pilih beliau sebagai temanmu ?” Dalam hal ini, seorang anak tidak simpel menjalin persahabatan, biasanya persahabatan tersebut terjadi sesudah beberapa ketika mereka saling mengenal baik gres mereka akan menjalinnya, kadang persahabatan mereka sanggup hingga usia dewasa, kadang juga terputus tergantung factor apa yang terjadi selama persahabatan mereka.

Fase ketiga. Persahabatan yang penuh dengan saling pengertian


Terjadi pada anak usia 11 hingga 15 tahun, bagi mereka arti sahabat tidak hanya sekedar untuk bermain saja, di sini seorang sahabat harus juga sanggup berfungsi sebagai kawasan menyebarkan pikiran, perasaan dan pengertian. Pada fase ini persahabatan memasuki stadium yang sangat pribadi, alasannya yakni pada umumnya mereka sedang mengalami masa puber dengan permasalahan psikologis menyerupai ; depresi, rasa takut, problem di rumah, atau problem keuangan yang terjadi pada mereka, biasanya mereka lebih tahu permasalahan psikologis tersebut dibandingkan dengan orang bau tanah mereka sendiri.

Persahabatan pada fase ini sanggup berubah seiring dengan berjalannya usia mereka, dari sekedar sahabat bermain, kemudian berubah menjadi sahabat menyebarkan kepercayaan dan sahabat menyebarkan emosi. Persahabatan tersebut biasanya terputus alasannya yakni salah seorang dari mereka pindah rumah atau melanjutkan sekolah di kota lain.

Percakapan di antara mereka yang sering kita dengar pada fase ini, misalnya: “Kita butuh sahabat yang baik, alasannya yakni kita sanggup menyebarkan dongeng di mana orang lain tidak perlu tahu, sahabat yang baik akan memberi pesan yang tersirat atau jalan keluar yang terbaik”

Pentingnya Persahabatan Untuk Perkembangan Sosial Anak-Anak


Di dalam lingkungan sekolah dasar, biasanya ada anak yang terkenal dan tidak populer, baik anak tersebut lebih menonjol alasannya yakni kepintaranya atau pun alasannya yakni hal yang lainnya.
Mereka mendapat perhatian lebih, menyerupai selalu diundang dan hadir di pesta ulang tahun temannya sedangkan yang tidak terkenal tidak pernah diundang. Untuk mengetahui lebih jauh ihwal korelasi sosial anak terkenal dan tidak terkenal di dalam kelas, seorang guru atau kita, sanggup mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka,
seperti:

  • Dengan siapa kau mau pergi tamasya?
  • Dengan siapa kau mau duduk?

Ternyata anak terkenal lebih banyak disebut dan anak tidak terkenal jarang atau sama sekali tidak disebut.

Untuk lebih mengetahui anak terkenal dan tidak populer, pertanyaan-pertanyaan tersebut sanggup dikembangkan lagi dengan pertanyaan-pertanyaan negatif dan pertanyaan-pertanyaan positif.
Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, kita sanggup lebih cepat mengetahui mana anak terkenal dan mana anak yang tidak terkenal dan juga kita sanggup lebih cepat mengetahui serta membantu mengatasi problem si anak pada stadium yang masih belum terlalu jauh. Dengan cara tersebut, pada balasannya kita sanggup membedakan perkembangan bawah umur secara berurutan, seperti:

  1. Anak-anak yang menyandang bintang sosiometris. artinya mereka paling banyak disebut sisi positifnya dari pada sisi negatifnya, biasanya mereka disenangi dan diakui oleh teman-temannya sedikit dari mereka yang menyandang bintang sosiometris ini merasa terasingkan.
  2. Anak-anak yang biasa. Biasanya mereka tidak begitu terkenal dibandingkan dengan bintang sosiometris, tetapi mereka lebih banyak disebut sisi positifnya dan sedikit disebut sisi negatifnya.
  3. Anak-anak yang terisolir. Biasanya mereka tidak disebut sisi positifnya dan juga tidak disebut sisi negatifnya, tampaknya anak terisolir tersebut tidak terlihat oleh teman-temannya.
  4. Anak-anak yang terasingkan. Biasanya mereka oleh bawah umur yang lain diasingkan dan tidak diakui sebagai teman, mereka biasanya sedikit sekali disebut sisi positifnya dan lebih banyak disebut sisi negatifnya.

Dari urutan-urutan di atas, kita sebagai orang bau tanah harus cepat tanggap dan tidak ragu untuk bertanya kepada guru di sekolah, bagaimana perkembangan psikologi anak di lingkungan sekolah, hal tersebut dilakukan untuk membandingkan perkembangan psikologi anak di lingkungan rumah dan di lingkungan sekolah, semoga kita sanggup secepatnya menelusuri dan mengetahui apakah anak kita memiliki dilema dalam dirinya yang tidak berani diungkapkan kepada kita sebagai orang tuanya dan kita sanggup dengan cepat menangani serta membantu memecahkan dilema si anak tersebut, sebelum dilema anak tersebut terlanjur merubah sifat dan karekter si anak.

Jadi Bakir Faktor Penting Yang Mempengaruhi Psikologi Sosial Anak


Faktor Penting Yang Mempengaruhi Psikologi Sosial Anak. Sebagaimana telah dibahas pada artikel sebelumnya wacana Psikologi Anak Dalam Kehidupan Sosial, bahwa ada dua cara mengetahui perkembangan bermain anak dengan teman-temannya, agar lebih gampang memecahkan problem psikologi sosial anak.

Sedangkan salah satu faktor yang menghipnotis perkembangan psikologi anak ialah mengetahui bagaimana cara mereka bermain.

Beberapa faktor yang sanggup menghipnotis hal tersebut. yaitu:


1. Cara orang bau tanah mendidik dan membina anak
Orang bau tanah yang mendidik anak dengan cara sedikit demi sedikit dalam menjelaskan sesuatu hal, dan mendidik anak dengan penuh kasih sayang, biasanya belum dewasa mereka mempunyai kepercayaan diri yang tinggi dan mereka akan gampang dalam menyebarkan korelasi sosialnya.

Lain halnya dengan belum dewasa yang tidak mendapat kasih sayang secara penuh dan mereka dididik oleh orang tuanya dengan cara kasar serta mendapat insiden yang menciptakan anak tersebut trauma, maka kita sanggup dengan terang melihat perbedaan yang mencolok, biasanya anak tersebut sulit dikendalikan dan mempunyai masalah, mereka tidak akan gampang membina korelasi sosial dan sulit membina persahabatan dengan anak lainnya.

2. Urutan kelahiran
Urutan kelahiran, menghipnotis juga dalam status sosial anak, alasannya biasanya anak yang paling muda lebih terkenal dan terbiasa dengan negoisasi dari pada saudara-saudaranya.

3. Kecakapan dan keterampilan mengambil peran
Biasanya belum dewasa terkenal mempunyai kecakapan dan keterampilan dalam mengambil apa pun posisi tugas dan posisi tugas tersebut sanggup menjelma lebih baik. Anak-anak terkenal biasanya mempunyai intellegensi/kecerdasan yang baik. Dengan mempunyai ciri-ciri tersebut, belum dewasa terkenal lebih gampang menempatkan dirinya atau mengikuti keadaan dilingkungan yang asing.

4. Nama
Ternyata di lingkungan anak-anak, nama sanggup membawa pengaruh. Nama yang sanggup diasosiasikan dengan sesuatu hal, sanggup membawa dampak negatif terhadap perkembangan sosial psikologi anak. alasannya belum dewasa masih sangat kongkrit dalam menyatakan sesuatu hal, kesannya anak tersebut merasa rendah diri dan tersudut apabila belum dewasa yang lain mencemoohkan alasannya namanya sanggup diasosiasikan dengan sesuatu hal.

5. Daya tarik
Anak-anak yang mempunyai daya tarik tersendiri, biasanya selalu terkenal daripada anak yang kurang mempunyai daya tarik. Anak-anak yang berumur 3 tahun, sudah sanggup membedakan mana belum dewasa yang menarik dan mana belum dewasa yang kurang menarik, reaksi ketertarikkannya hampir sama dengan orang dewasa.

Pada anak usia 3 tahun, anak yang menarik dan anak tidak menarik tidak begitu kelihatan mencolok, tetapi pada anak usia 5 tahun, hal tersebut sanggup terlihat sangat jelas, anak usia 5 tahun yang tidak menarik biasanya lebih kasar dan sering tidak jujur dalam bermain, sedangkan pada anak usia 5 tahun yang mempunyai daya tarik, biasanya mereka sering diberi masukkan-masukkan yang positif dari sekitarnya sehingga tumbuh rasa percaya diri yang lebih tinggi, sabaliknya pada anak usia 5 tahun yang tidak menarik rasa percaya dirinya berkurang alasannya terpengaruh masukkan-masukkan yang negatif dari lingkungannya.

6. Perilaku
Tidak semua anak yang menarik menjadi terkenal alasannya masih banyak faktor lainnya yang sanggup menghipnotis katagori populer. Perilaku yang menciptakan anak populer, antara lain ; ramah tamah, mempunyai rasa simpati, tidak agresif, sanggup berkerja sama, suka menolong, suka memperlihatkan masukkan atau komentar yang positif, dan lain-lain.

Secara umum faktor-faktor di atas terdapat pada belum dewasa yang populer, dan factor-faktor tersebut sanggup memilih status sosial anak, tetapi tidak selamanya anak terkenal pada nantinya sanggup memilih status sosial, sebagian belum dewasa yang tumbuh dari lingkungan yang selalu terjaga pendidikannya, intellegensinya, cakap dan terampil, mempunyai nama yang baik serta menarik tetapi tidak popular, sebagian lagi ada juga belum dewasa yang tumbuh dari lingkungan yang bermasalah, kurang perhatian dari orang tua, mempunyai nama yang kurang bagus, dan tidak mempunyai daya tarik, tetapi sanggup juga menjadi populer.

Lalu bagaimana dengan belum dewasa yang kurang dihargai ibarat ; Anak-anak yang terisolir dan Anak-anak yang terasingkan.

Kelompok belum dewasa tersebut mempunyai nilai yang rendah dari belum dewasa seumurnya, akan tetapi belum dewasa yang terisolir lebih gampang diakui dari pada belum dewasa yang terasingkan, namun usang kelamaan belum dewasa yang terasingkan akan diakui juga. Anak-anak yang terasingkan mempunyai resiko pembiasaan lebih besar dalam usia menjelang dewasa, mereka menjadi terasingkan alasannya ada penyimpangan dari salah satu factor status sosial anak. Jika belum dewasa ini lemah dalam menghadapi ejekkan-ejekkan atau godaan dari belum dewasa lainnya, maka hal tersebut sanggup membentuk sikap dan proses belajarnya akan terganggu.

Beberapa problem pada belum dewasa yang terasingkan, antara lain ;

  • Secara terbuka mereka diasingkan
  • Sering terlibat dalam hal-hal kejadian interaksi yang negatif
  • Mempunyai problem perilaku
  • Sering memperlihatkan sikap agresif
  • Mempunyai status negatif yang stabil
  • Sering bermasalah di sekolah

Secara umum belum dewasa yang terasingkan, bereaksi dengan dua cara :

1. Menarik diri
Biasanya mereka menarik diri dari kontak dengan yang lain, mereka bahwasanya ingin main dengan belum dewasa lainnya, tetapi mereka diacuhkan dan diabaikan keberadaannya, malahan mereka mengejeknya ibarat dengan sebutan “professor” alasannya anak tersebut menggunakan kacamata, maka dari itu mereka selalu menhindar dari belum dewasa lainnya, di rumah biasanya mereka juga pendiam dan selama mungkin tinggal di kamarnya dengan membaca komik atau mendengarkan musik, kepada orang tuanya mereka beralasan tidak suka main di luar.

2. Perilaku anti sosial
Biasanya mereka sulit untuk diatur, padahal belum dewasa lainnya tidak suka dengan perilakunya, misalnya: Pada dikala belum dewasa yang lain bermain bola, kemudian tiba anak yang terasingkan, tetapi tidak untuk ikut bermain dengan belum dewasa lainnya, anak tersebut tiba hanya sekedar untuk mengganggu saja dengan mengambil bolanya, dan apabila ikut bermain bola pun anak itu akan tampil dengan kasar sehingga menciptakan belum dewasa lainnya berhenti bermain, anak yang terasing itu akan marah-marah sampai akhirnya belum dewasa yang lain terpaksa menyerah dan bermain bola kembali dengan aturan-aturan yang dikehendaki oleh anak yang terasing tadi.

Untuk belum dewasa yang terasing ini di negara-negara yang sudah maju, ibarat di Belanda, para orang bau tanah dari anak tersebut akan mendapat laporan dari pengajar atau guru, kemudian mereka diberikan penyuluhan dan konsultasi dari Psikolog Anak yang ada di bawah Departemen Urusan Anak-anak Bermasalah, kemudian akan dikirim ke Departemen Kesehatan untuk gangguan jiwa yang tidak stabil untuk diberi pengarahan dan keterampilan sosial dalam cara menyesuaikan diri atau cara mengikuti keadaan di lingkungan rumah maupun di lingkungan sekolah.

Untuk orang yang lebih dewasa, mereka diajarkan semacam therapy untuk mengikuti keadaan dalam lingkungan masyarakat agar akhirnya mereka sanggup mandiri.

Jadi Bakir Pendidikan Kecakapan Hidup


Pendidikan kecakapan hidup menyatu dengan mata pelajaran, muatan local, dan pengembangan diri. Kecakapan hidup yang termasuk dalam komponen Personal Skill, General Skill dan Academic Skill akan diinternalisasikan dalam setiap mata pelajaran yang disajikan di Sekolah ini. Komponen-komponen kecakapan hidup yang akan diinternalisasikan dalam setiap mata pelajaran sanggup dilihat lebih detail pada bab pengalaman berguru pada setiap silabus yang ada pada setiap mata pelajaran (silabus di halaman belakang).

Dalam menginternalisasikan komponen-komponen kecakapan hidup tersebut dipakai strategi-strategi sebagai berikut:

Melalui reorientasi pembelajaran


Setiap guru yang akan memberikan mata pelajaran harus merencanakan komponen-komponen yang akan diinternalisasikan dalam proses pembelajaran, sehingga pencapaian kompetensi dalam setiap mata pelajaran hendaknya diikuti dengan “penyemaian” komponen-komponen dari kecakapan hidup.

Mengubah seni administrasi pembelajaran


dengan memakai pendekatan dan metoda yang variatif, sehingga memungkinkan:

  1. Siswa lebih aktif
  2. Iklim berguru menyenagkan
  3. Fungsi guru bergeser dari pemberi gosip menuju seorang fasilitator
  4. Materi yang dipelajari terkait dengan lingkungan kehidupan siswa, sehingga sanggup dimanfaatkan untuk memecahkan dilema kehidupan
  5. Siswa terbiasa mencari gosip dari banyak sekali sumber
  6. Menggeser "teaching" menjadi "learning"
  7. Lebih banyak komponen-komponen dalam kecakapan hidup yang sanggup diinternalisasikan dalam PBM

Contoh pengintegrasian life skill :


PENGALAMAN BELAJAR PEMBEKALAN LIFE SKILL
Siswa mengumpulkan SD nimum 4 macam surat perorangan
  • Menggali informasi
  • Sadar akan eksistensi diri
  • Sadar akan potensi diri
Siswa memilih karakteristik surat, melalui diskusi kelompok
  • Mengolah informasi
  • Bekerjasama
  • Berkomunikasi lisan
  • Berkomunikasi tertulis
  • Mengambil keputusan
Siswa memaparkan hasil diskusi kelompok
  • Komunikasi lisan
  • Menghargai pendapat orang lain
  • Mengambil keputusan
  • Komunikasi tertulis
  • Mampu memecahkan dilema

Jadi Terpelajar Teladan Rencana Pembelajaran Di Sekolah


Contoh Rencana Pembelajaran di Sekolah. Perencanaan proses pembelajaran meliputi silabus dan planning pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang memuat identitas mata pelajaran, standar kompetensi (SK), kompetensi dasar (KD), indikator pencapaian kompetensi, tujuan pembelajaran, bahan ajar, alokasi waktu, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, penilaian hasil belajar, dan sumber belajar.

Silabus sebagai contoh pengembangan RPP memuat identitas mata pelajaran atau tema pelajaran, SK, KD, bahan pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator pen¬capaian kompetensi, penilaian, alokasi waktu, dan sumber belajar. Silabus dikembangkan oleh satuan pendidikan menurut Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lu¬lusan (SKL), serta berpedoman pada Kurikulum Tahun Pelajaran 2012/2013. Dalam pelaksanaannya, pengembangan silabus sanggup dilakukan oleh para guru secara sanggup berdiri diatas kaki sendiri atau berkelompok dalam sebuah kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran(RPP)


RPP dijabarkan dari silabus untuk mengarahkan ke¬giatan mencar ilmu penerima didik dalam upaya mencapai KD. Setiap guru berkewajiban menyusun RPP secara lengkap dan sistematis supaya pembelajaran berlangsung secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi penerima didik untuk berpartisipasi aktif, serta memperlihatkan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis penerima didik.

RPP disusun untuk setiap KD yang sanggup dilaksanakan dalam satu kali pertemuan atau lebih. Guru merancang serpihan RPP untuk setiap pertemuan yang diubahsuaikan dengan penjadwalan di satuan pendidikan.

Komponen RPP ialah :


  1. Identitas mata pelajaran, meliputi: satuan pendidikan, kelas, semester, program/program keahlian, mata pela¬jaran atau tema pelajaran, jumlah pertemuan.
  2. Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemam¬puan minimal penerima didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang dibutuhkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.
  3. Kompetensi dasar ialah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai penerima didik•dalam mata pelajaran tertentu sebagai referensi penyusunan indikator kompe¬tensi dalam suatu pelajaran.
  4. Indikator pencapaian kompetensi ialah sikap yang sanggup diukur dan/atau diobservasi untuk memperlihatkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi contoh penilai¬an mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan memakai kata kerja opera¬sional yang sanggup diamati dan diukur, yang meliputi pengetahuan, sikap, dan keterampilan.
  5. Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan ha¬sil mencar ilmu yang dibutuhkan dicapai oleh penerima didik sesuai dengan kompetensi dasar.
  6. Materi latih memuat fakta, konsep, prinsip, dan pro¬sedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi.
  7. Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar.
  8. Metode pembelajaran dipakai oleh guru untuk mewujudkan suasana mencar ilmu dan proses pembelajaran supaya penerima didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran diubahsuaikan dengan situ¬asi dan kondisi penerima didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.
  9. Kegiatan pembelajaran
    • Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan un¬tuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian penerima didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran.
    • Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenang¬kan, menantang, memotivasi penerima didik untuk berpartisipasi aktif, serta memperlihatkan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis penerima didik. Kegiatan ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses.eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
    • Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan un¬tuk mengakhiri acara pembelajaran yang sanggup dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpul¬an, evaluasi dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut.
  10. Penilaian hasil belajar; Prosedur dan instrumen evaluasi proses dan hasil mencar ilmu diubahsuaikan dengan indikator pencapaian kom¬petensi dan mengacu kepada Standar Penilaian.
  11. Penentuan sumber mencar ilmu didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta bahan ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi.

Prinsip-prinsip Penyusunan RPP


  1. Memperhatikan perbedaan individu penerima didik
    RPP disusun dengan memperhatikan perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus, kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan penerima didik.
  2. Mendorong partisipasi aktif penerima didik
    Proses pembelajaran dirancang dengan berpusat pada penerima didik untuk mendorong motivasi, minat, krea¬tivitas, inisiatif, inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar.
  3. Mengembangkan budaya membaca dan menulis Proses pembelajaran dirancang untuk mengembang¬kan kegemaran membaca, pemahaman bermacam-macam ba¬caan, dan berekspresi dalam banyak sekali bentuk tulisan.
  4. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut
    RPP memuat rancangan acara pertolongan umpan balik positif, penguatan, pengayaan, dan remedi.
  5. Keterkaitan dan keterpaduan
    RPP disusun dengan memperhatikan keterkaitan dan keterpaduan antara SK, KD, bahan pembelajaran, ke¬giatan pernlielajaran, indikator pencapaian kompeten¬si, penilaian, dan sumber mencar ilmu dalam satu keutuhan pengalaman belajar. RPP disusun dengan mengako¬modasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
  6. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi
    RPP disusun dengan mempertimbangkan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

Friday, 13 September 2019

Jadi Berakal Pentingnya Penelitian Tindakan Kelas


Belakangan ini Penelitian Tindakan Kelas (PTK) semakin menjadi demam isu untuk dilakukan oleh para profesional sebagai upaya pemecahan problem dan peningkatan mutu di aneka macam bidang. Awal mulanya, PTK, ditujukan untuk mencari solusi terhadap problem sosial (pengangguran, kenakalan remaja, dan lain-lain) yang berkembang di masyarakat pada ketika itu. PTK dilakukan dengan diawali oleh suatu kajian terhadap problem tersebut secara sistematis.

Hal kajian ini kemudian dijadikan dasar untuk mengatasi problem tersebut. Dalam proses pelaksanaan rencana yang telah disusun, kemudian dilakukan suatu observasi dan penilaian yang digunakan sebagai masukan untuk melaksanakan refleksi atas apa yang terjadi pada tahap pelaksanaan. Hasil dari proses refeksi ini kemudian melandasi upaya perbaikan dan peryempurnaan rencana tindakan berikutnya. Tahapan-tahapan di atas dilakukan berulang-ulang dan berkesinambungan hingga suatu kualitas keberhasilan tertentu sanggup tercapai.

Ada beberapa alasan mengapa PTK merupakan suatu kebutuhan bagi guru untuk meningkatkan profesional seorang guru :

  1. PTK sangat aman untuk membuat guru menjadi peka tanggap terhadap dinamika pembelajaran di kelasnya. Dia menjadi reflektif dan kritis terhadap lakukan.apa yang beliau dan muridnya
  2. PTK sanggup meningkatkan kinerja guru sehingga menjadi profesional. Guru tidak lagi sebagai seorang praktis, yang sudah merasa puas terhadap apa yang dikerjakan selama bertahun-tahun tanpa ada upaya perbaikan dan inovasi, namun juga sebagai peneniliti di bidangnya.
  3. Dengan melaksanakan tahapan-tahapan dalam PTK, guru bisa memperbaiki proses pembelajaran melalui suatu kajian yang dalam terhadap apa yang terhadap apa yang terjadi di kelasnya. Tindakan yang dilakukan guru semata-mata didasarkan pada problem nyata dan faktual yang berkembang di kelasnya.
  4. Pelaksanaan PTK tidak menggangu kiprah pokok seorang guru lantaran beliau tidak perlu meninggalkan kelasnya. PTK merupakan suatu acara penelitian yang terintegrasi dengan pelaksanaan proses pembelajaran.
  5. Dengan melaksanakan PTK guru menjadi kreatif lantaran selalu dituntut untuk melaksanakan upaya-upaya penemuan sebagai implementasi dan pembiasaan aneka macam teori dan teknik pembelajaran serta materi asuh yang dipakainya.
  6. Penerapan PTK dalam pendidikan dan pembelajaran mempunyai tujuan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas praktek pembelajaran secara berkesinambungan sehingga meningkatan mutu hasil instruksional; menyebarkan keterampilan guru; meningkatkan relevansi; meningkatkan efisiensi pengelolaan instruksional serta menumbuhkan budaya meneliti pada komunitas guru.

Melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) masalah-masalah pendidikan dan pembelajaran sanggup dikaji, ditingkatkan dan dituntaskan, sehingga proses pendidikan dan pembelajaran yang inovatif dan hasil berguru yang lebih baik, sanggup diwujudkan secara sistematis.

Upaya PTK dibutuhkan sanggup membuat sebuah budaya berguru (learning culture) di kalangan dosen di LPTK, dan guru-siswa di sekolah. PTK menunjukkan peluang sebagai taktik pengembangan kinerja, lantaran pendekatan penelitian ini menempatkan pendidik dan tenaga kependidikan lainnya sebagai peneliti, sebagai biro perubahan yang contoh kerjanya bersifat kolaboratif.

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas


  1. Meningkatkan mutu isi, masukan, proses, dan hasil pendidikan dan pembelajaran di sekolah (SD, SMP, Sekolah Menengan Atas dan SMK).
  2. Membantu guru dan tenaga kependidikan lainnya mengatasi problem pembelajaran dan pendidikan di dalam dan luar kelas.
  3. Meningkatkan perilaku profesional pendidik dan tenaga kependidikan.
  4. Menumbuh-kembangkan budaya akademik di lingkungan sekolah dan LPTK, sehingga tercipta perilaku proaktif di dalam melaksanakan perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran secara berkelanjutan (sustainable).
  5. Meningkatkan keterampilan pendidik dan tenaga kependidikan khususnya di sekolah dalam melaksanakan PTK.
  6. Meningkatkan kerjasama profesional di antara pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah dan LPTK.

Kajian Penelitian Tindakan Kelas


  1. Masalah belajar siswa di sekolah (termasuk di dalam tema ini, antara lain: problem berguru di kelas, kesalahan-kesalahan pembelajaran, miskonsepsi).
  2. Desain dan taktik pembelajaran di kelas (termasuk dalam tema ini, antara lain: problem pengelolaan dan mekanisme pembelajaran, implementasi dan penemuan dalam metode pembelajaran, interaksi di dalam kelas, partisipasi orangtua dalam proses berguru siswa).
  3. Alat bantu, media dan sumber berguru (termasuk dalam tema ini, antara lain: problem penggunaan media, perpustakaan, dan sumber berguru di dalam/luar kelas, peningkatan kekerabatan antara sekolah dan masyarakat).
  4. Sistem asesmen dan penilaian proses dan hasil pembelajaran (termasuk dalam tema ini, antara lain: problem penilaian awal dan hasil pembelajaran, pengembangan instrumen asesmen berbasis kompetensi).
  5. Pengembangan pribadi penerima didik, pendidik, dan tenaga kependidikan lainnya (termasuk dalam tema ini antara lain: peningkatan kemandirian dan tanggungjawab penerima didik, peningkatan keefektifan kekerabatan antara pendidik- penerima didik dan orangtua dalam PBM, peningkatan konsep diri penerima didik).
  6. Masalah kurikulum (termasuk dalam tema ini antara lain: implementasi KBK, urutan penyajian materi pokok, interaksi guru-siswa, siswa-materi ajar, dan siswa-lingkungan belajar).

Jadi Pintar Teladan Tawaran Penelitian Tindakan Kelas Format Word


Pada artikel sebelumnya saya membahas sedikit ihwal pentingnya penelitian tindakan kelas. Disamping untuk meningkatkan profesionalitas kinerja guru, juga untuk meningkatkan semangat berguru siswa.

Karena itulah saya share Contoh Usulan Penelitian Tindakan Kelas, mungkin saja ada yang yang membutuhkan untuk pengajuan penelitian yang nantinya berfungsi sebagai dasar menyusunan skripsi.

Namun perlu diketahui bahwa file ini hanya pola kerangka saja, selebihnya silahkan anda edit sesuai dengan kebutuhan masing-masing. Silahkan di Download semoga bermanfaat...

Tingkat Judul Unduh
TK 1 Upaya pengembangan etika anak dengan metode riadloh Link
TK 2 Aplikasi media bentuk gambar sesuai tema mendukung keberhasilan kemampuan bahasa dan daya pikir Link
SD Peningkatan kualitas pembelajaran ips melalui pendekatan kooperatif tipe jigsaw Link
SMP Meningkatkan acara dan hasil belajar Link
SMA Peningkatan acara dan prestasi berguru siklus akuntansi perusahaan jasa Link

Semoga bisa membantu dan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Amin...

Jadi Arif Pola Berkas Laporan Kkn Format Word


Contoh Berkas Laporan Kuliah Kerja Nyata ini meliputi beberapa hal terkait. menyerupai tawaran dan panduan KKN, rencana kegiatan, laporan hasil survei kelompok, lembar persetujuan, dan masih banyak lagi.

Laporan simpulan individual ini merupakan kegiatan kerja yang telah dilaksanakan sebagai sebuah kewajiban, kegiatan kerja yang telah dilakukan dibutuhkan bisa menjadi suatu proses pemberdayaan bagi masyarakat.

Sehingga, sangatlah dibutuhkan terjadinya perkembangan serta pertumbuhan dalam bidang-bidang yang telah diberdayakan, terutama dalam bidang-bidang keagamaan dan pendidikan masyarakat. Silahkan download pada link berikut ini:

Contoh Berkas Laporan KKN Format Word

Jadi Berilmu Fungsi Tujuan Dan Nilai Pendidikan Budaya Dan Huruf Bangsa


Fungsi Tujuan dan Nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Budaya diartikan sebagai keseluruhan sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan (belief) insan yang dihasilkan masyarakat. Sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan itu yaitu hasil dari interaksi insan dengan sesamanya dan lingkungan alamnya.

Sistem berpikir, nilai, moral, norma dan keyakinan itu dipakai dalam kehidupan insan dan menghasilkan sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, sistem pengetahuan, teknologi, seni, dan sebagainya. Manusia sebagai makhluk sosial menjadi penghasil sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan; akan tetapi juga dalam interaksi dengan sesama insan dan alam kehidupan, insan diatur oleh sistem berpikir, nilai, moral, norma, dan keyakinan yang telah dihasilkannya.

Ketika kehidupan insan terus berkembang, maka yang berkembang bergotong-royong yaitu sistem sosial, sistem ekonomi, sistem kepercayaan, ilmu, teknologi, serta seni. Pendidikan merupa kan upaya terpola dalam berbagi potensi penerima didik, sehingga mereka mempunyai sistem berpikir, nilai, moral, dan keyakinan yang diwariskan masyarakatnya dan berbagi warisan tersebut ke arah yang sesuai untuk kehidupan masa sekarang dan masa mendatang.

Fungsi Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa


  1. Pengembangan: pengembangan potensi penerima didik untuk menjadi langsung berperilaku baik; ini bagi penerima didik yang telah mempunyai sikap dan sikap yang mencerminkan budaya dan huruf bangsa;
  2. Perbaikan: memperkuat peran pendidikan nasional untuk bertanggung jawab dalam pengembangan potensi penerima didik yang lebih bermartabat; dan 3. penyaring: untuk menyaring buda ya bangsa sendiri dan budaya bangsa lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan huruf bangsa yang bermartabat.

Tujuan pendidikan budaya dan huruf bangsa


  1. Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif penerima didik sebagai insan dan warganegara yang mempunyai nilai-nilai budaya dan huruf bangsa;
  2. Mengembangkan kebiasaan dan sikap penerima didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius;
  3. Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab penerima didik sebagai generasi penerus bangsa;
  4. Mengembangkan kemampuan penerima didik menjadi insan yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan; dan
  5. Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan mencar ilmu yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity).

Nilai-nilai Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa


Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan budaya dan huruf bangsa diidentifikasi dari sumber-sumber berikut ini:

1. Agama
Masyarakat Indonesia yaitu masyarakat beragama. Oleh alasannya yaitu itu, kehidupan individu, masyarakat, dan bangsa selalu didasari pada pedoman agama dan kepercayaannya. Secara politis, kehidupan kenegaraan pun didasari pada nilai-nilai yang berasal dari agama. Atas dasar pertimbangan itu, maka nilai-nilai pendidikan budaya dan huruf bangsa harus didasarkan pada nilai-nilai dan kaidah yang berasal dari agama.

2. Pancasila
Negara kesatuan Republik Indonesi a ditegakkan atas prinsip-prinsip kehidupan kebangsaan dan kenegaraan yang disebut Pancasila. Pancasila terdapat pada Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 dan dijabarkan lebih lanjut dalam pasal-pasal yang terdapat dalam Undang-Undang Dasar 1945.

Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila menjadi nilai-nilai yang mengatur kehidupan politik, hukum, ekonomi, kemasyarakatan, budaya, dan seni. Pe ndidikan budaya dan huruf bangsa bertujuan mempersiapkan penerima didik menjadi warga negara yang lebih baik, yaitu warga negara yang mempunyai kemampuan, kemauan, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupannya sebagai warga negara.

3. Budaya
Sebagai suatu kebenaran bahwa tidak ada insan yang hidup bermasyarakat yang tidak didasari oleh nilai-nilai budaya yang diakui masyarakat itu. Nilai-nilai budaya itu dijadikan dasar dalam pertolongan makna terhadap suatu konsep dan arti dalam komunikasi antar anggota masyarakat itu. Posisi budaya yang demikian penting dalam kehidupan masyarakat mengharuskan budaya menjadi sumber nilai dalam pendidikan budaya dan huruf bangsa.

4. Tujuan Pendidikan Nasional
Sebagai rumusan kualitas yang harus dimiliki setiap warga negara Indonesia, dikembangkan oleh aneka macam satuan pendidikan di aneka macam jenjang dan jalur. Tujuan pe ndidikan nasional memuat aneka macam nilai kemanusiaan yang harus dimiliki warga negara Indonesia. Oleh alasannya yaitu itu, tujuan pendidikan nasional yaitu sumber yang paling operasional dalam pengembangan pendidikan budaya dan huruf bangsa.

Jadi Berilmu Istilah Dalam Dunia Pendidikan Dan Pengertiannya


Istilah Dalam Dunia Pendidikan dan Pengertiannya. Sering kita temui istilah atau abreviasi dalam dunia pendidikan, namun terkadang kita pun tidak tahu apa maksudnya. Seperti silabus, RPP, prota, promes, kurikulum, ukk, kkm, atau lainnya. sehingga menciptakan kita bertanya-tanya apa dan bagaimana???

Karena itu saya share apa ini apa itu? Sebagian orang mungkin sudah tahu apa maksud dari semua itu, apalagi yang sudah berair kuyup dengan pendidikan menyerupai saya. namun tidak ada salahnya saya bagikan di blog ini. sepakat eksklusif baca saja ya...

Istilah Singkatan Pengertian
Badan Standar Nasional Pendidikan BSNP Badan berdikari dan independen yang bertugas mengembangkan, memantau pelaksanaan, dan mengevaluasi standar nasional pendidikan.
Evaluasi Kurikulum Proses penilaian pelaksanaan kurikulum tingkat satuan pendidikan yang dilakukan melalui teknik angket, wawancara, penggalian dokumen, dan supervisi kelas.
Evaluasi Pendidikan Proses penilaian terhadap input, proses transformasi sampai output pendidikan yang meliputi siswa, materi/kurikulum, guru, metode/pendekatan, sarana dan prasarana serta lingkungan insan dan non- manusia.
Implementasi Kurikulum Kegiatan untuk melaksanakan semua rancangan kurikulum yang telah disusun pada tahap penyusunan kurikulum.
Indikator kompetensi Perilaku yang sanggup diukur dan atau diobservasi untuk memperlihatkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi contoh penilaian mata pelajaran.
Kalender Akademik Pengaturan waktu untuk acara pembelajaran penerima didik selama satu tahun ajaran. Komponen kalender pendidikan meliputi: (1) permulaan tahun pelajaran, (2) ahad efektif belajar, (3) waktu pembelajaran efektif, dan (4) waktu libur
Kegiatan Ekstra-Kurikuler Ekskul Salah satu bentuk agenda pengembangan diri yang berupa acara pembelajaran di luar kelas.
Kegiatan Pengembangan Diri Kegiatan yang bertujuan menawarkan kesempatan kepada penerima didik untuk menyebarkan dan mengeskpresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, minat, setiap penerima didik sesuai dengan kondisi madrasah.
Kepala Madrasah Guru yang menerima kiprah perhiasan sebagai kepala pada madrasah dalam mengelola sebuah satuan pendidikan dibawah naungan Kementerian Agama Republik Indonesia
Kompetensi Dasar KD Sejumlah kemampuan yang harus dikuasai penerima didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai referensi penyusunan indikator kompetensi.
Kriteria Ketuntasan Minimal KKM Target ketuntasan minimal untuk setiap aspek penilaian mata pelajaran, yang telah ditetapkan oleh masing-masing Madrasah. Kriteria Ketuntasan Minimal dihitung menurut empat komponen yaitu: esensial, kompleksitas, daya dukung, dan intake. Karena semua kompetensi dasar itu yaitu esensial, maka pertimbangan yang perlu diperhatikan hanyalah ketiga komponen yang lain.
Kurikulum Seperangkat planning dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan materi pelajaran serta cara yang dipakai sebagai pedoman penyelenggaraan acara pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan KTSP Kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan berlandaskan kepada standar nasional isi, kompetensi lulusan, pedoman BSNP, dan ketentuan peraturan perundang-undangan dan panduan lain yang relevan.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Dokumen 1 KTSP: Dokumen 1 Dokumen KTSP yang berisi penyusunan visi, misi, tujuan madrasah, struktur dan muatan kurikulum (mata pelajaran, mulok, pengembangan diri, ketuntasan belajar, kenaikan/kelulusan serta kalender pendidikan) yang sesuai dengan karakteristik masing-masing satuan pendidikan.
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan: Dokumen 2 KTSP: Dokumen 2 Dokumen KTSP yang berisi silabus dan contoh RPP.
Laporan Hasil Belajar Siswa LHBS Laporan hasil mencar ilmu siswa yang menggambarkan tingkat pencapaian kriteria kompetensi minimal (KKM).
Madrasah Lembaga pendidikan Islam yang berfungsi sebagai forum pengembangan dakwah dan forum pemberdayaan masyarakat di bawah naungan Departemen Agama Republik Indonesia.
Madrasah Ibtidaiyah MI Salah satu bentuk satuan pendidikan formal yang menyelenggarakan pendidikan umum dengan kekhasan agama Islam pada jenjang pendidikan dasar sebelum Madrasah Ibtidaiyah atau bentuk lain yang sederajat, di dalam binaan Menteri Agama.
Monitoring Kurikulum Serangkaian acara pemantauan terhadap pelaksanaan kurikulum dengan banyak sekali cara biar pelaksanaan tidak menyimpang dari yang direncanakan menurut indikator keberhasilan yang telah disusun. Monitoring ditujukan untuk melihat sejauh mana progres yang telah dicapai dalam pelaksanaan kurikulum, apa kendalanya, dan faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhinya.
Muatan Kurikulum Komponen kurikulum yang terdiri dari mata pelajaran,kegiatan pengembangan diri, pengertian beban belajar, ketuntasan mencar ilmu serta ketentuan kenaikan kelas dan kelulusan.
Muatan lokal Mulok Kegiatan kurikuler untuk menyebarkan kompetensi yang diubahsuaikan dengan ciri khas dan potensi daerah, termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak sesuai menjadi bab dari mata pelajaran lain dan atau terlalu banyak sehingga harus menjadi mata pelajaran tersendiri.
Musyawarah Guru Mata Pelajaran MGMP Forum perkumpulan guru mata pelajaran di tingkat sekolah menengah pertama untuk mendiskusikan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pembelajaran mata pelajaran yang bersangkutan.
Pendidikan Agama Islam PAI Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang diberikan di sekolah.
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan PKN Nama mata pelajaran untuk menawarkan pembelajaran perihal Pancasila dan Kewarganegaraan.
Pengawas Pendidikan Agama Islam PPAI Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung-jawab dan wewenang secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan pengawasan pendidikan agama di madrasah umum dan di madrasah dengan melaksanakan penilaian dan training dari segi teknis dan manajemen pada satuan pendidikan pra madrasah, dasar, dan menengah.
Pengembangan diri Kegiatan yang bertujuan menawarkan kesempatan kepada penerima didik untuk menyebarkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan,bakat,minat, setiap penerima didik sesuai dengan kondisi madrasah.
Pengembangan kurikulum Rangkaian proses yang meliputi perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan penilaian terhadap kurikulum.
Perencanaan Kurikulum Penetapan tujuan, arah dan cara sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh tiap-tiap satuan pendidikan.
Pembelajaran Tematik Pembelajaran teRpadu yang memakai tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga sanggup menawarkan pengalaman bermakna kepada siswa. Tema yaitu pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan.
Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Madrasah RAPBM Rencana anggaran madrasah yang menggambarkan planning pendapatan dan planning belanja madrasah untuk satu tahun.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran RPP Rencana yang menggambarkan mekanisme dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan dalam standar isi dan dijabarkan dalam silabus. RPP berisi pengembangan Kompetensi Dasar menjadi indikator, menentukan pengalaman mencar ilmu yang sesuai, materi pokok pembelajaran, bentuk, teknik dan instrument pembelajaran menurut alokasi waktu dan sumber belajar.
Pusat Kegiatan Guru PKG Forum perkumpulan guru kelas di tingkat sekolah dasar untuk mendiskusikan persoalan-persoalan yang berkaitan dengan pembelajaran mata pelajaran di sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah.
Siklus Pengembangan Kurikulum Proses dalam pengembangan kurikulum yang meliputi delapan langkah: (1) analisis situasi dan kebutuhan, (2) merumuskan arah dan target kurikulum, (3) memutuskan standar kompetensi dan hasil belajar, (4) menentukan acara pembelajaran, (5) menyeleksi dan mengorganisasikan isi pembelajaran, (6) menyusun metode asesmen dan penilaian hasil pembelajaran, (7) mengimplementasikan dan memonitor pelaksanaan kurikulum, (8) mengevaluasi kurikulum, dan kembali ke analisis situasi dan kebutuhan.
Silabus Rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang meliputi standar kompetensi dan kompetensi dasar, acara pembelajaran, materi pokok/pembelajaran indikator pencapaian kom¬pe¬tensi, penilaian, sumber, dan alokasi waktu belajar.
Standar Isi SI Standar Isi yaitu ruang lingkup materi dan tingkat kompetensi yang dituangkan dalam persyaratan kompetensi tamatan, kompetensi materi kajian kompetensi mata pelajaran, dan silabus pembelajaran yang harus dipenuhi penerima didik pada jenjang dan jenis pendidikan tertentu.
Standar Kompetensi Lulusan SKL Kualifikasi kemampuan lulusan yang meliputi sikap,pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati.
Standar Kompetensi SK Ukuran kompetensi minimal yang harus dicapai penerima didik sesudah mengikuti suatu proses pembelajaran pada satuan pendidikan tertentu.
Standar Nasional Pendidikan SNP Kriteria minimal perihal sistem pendidikan di seluruh wilayah aturan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Struktur Kurikulum Merupakan pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peseta didik dalam acara pembelajaran. Struktur kurikulum disusun menurut standar kompetensi lulusan dan standar kompetensi mata pelajaran.
Supervisi Serangkaian acara pengawasan yang ditujukan untuk memperbaiki dan meningkatkan mutu, proses dan prestasi akademik melalui pengamatan, penilaian dan pembinaan.
Tim Pengembang Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Tim Pengembang KTSP Merupakan pelopor penyusunan, implementasi, monitoring dan pengendalian, serta penilaian kurikulum. Tim ini terdiri dari kepala madrasah, komite, beberapa guru (termasuk Wakil kepala Madrasah bidang kurikulum), tokoh masyarakat, dan nara sumber.
Ulangan Harian UH Kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk mengukur pencapaian kompetensi penerima didik sesudah menuntaskan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih.
Ulangan Tengah Semester UTS Kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi penerima didik sesudah melaksanakan 8 – 9 ahad acara pembelajaran. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan seluruh KD pada periode tersebut.
Ulangan Akhir Semester UAS Kegiatan yang dilakukan oleh pendidik untuk mengukur pencapaian kompetensi penerima didik di selesai semester. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan semua KD pada semester tersebut.
Ulangan Kenaikan Kelas UKK Kegiatan yang dilakukan oleh pendidik di selesai semester genap untuk mengukur pencapaian kompetensi penerima didik di selesai semester genap pada satuan pendidikan yang memakai sistem paket. Cakupan ulangan meliputi seluruh indikator yang merepresentasikan KD pada semester tersebut.
Ujian sekolah/madrasah US/UM Kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi penerima didik yang dilakukan oleh satuan pendidikan untuk memperoleh akreditasi atas prestasi mencar ilmu dan merupakan salah satu persyaratan kelulusan dari satuan pendidikan. Mata pelajaran yang diujikan yaitu mata pelajaran kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak diujikan dalam ujian nasional dan aspek kognitif dan/atau psikomotorik kelompok mata pelajaran agama dan adat mulia serta kelompok mata pelajaran kewarganegaraan dan kepribadian yang akan diatur dalam POS Ujian Sekolah/Madrasah.
Ujian Nasional UN Kegiatan pengukuran pencapaian kompetensi penerima didik pada beberapa mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam rangka menilai pencapaian Standar Nasional Pendidikan.

Jadi Bakir Anutan Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar Dengan Pakem


Pedoman Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar dengan Pakem (pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan).

Paket 1
administrasi berbasis sekolah, tugas serta masyakat, kunjungan sekolah, administrasi sekolah, berbagi pakem, membuat lingkungan berguru yang baik, pelaksanaan aktivitas kkg dan mgmp

Paket 2
kaji ulang jadwal administrasi berbasis sekolah, pengembangan tugas komite sekolah, desain pembelajaran pakem, pengembangan pakem dan praktik mengajar, pembelajaran yang mendidik murid berbagi potensi diri

Paket 3
jurnal belajar, kurikulum operasional, pemetaan kompetensi, unit khusus mata pelajaran kelas awal, perencanaan berdasar kurikulum, asesmen dan evaluasi.

Paket 4
administrasi berbasis sekolah, kkks/mkks dan kkps/mkps, pengembangan dan pemanfaatan perpustakaan sekolah dan sudut baca, asesmen yang berimbang, pendampingan, kkg dan mgmp.

Pedoman Peningkatan Mutu Pendidikan Dasar dengan Pakem

Semoga dapat membantu dan bermanfaat untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Amin...

Jadi Bakir Kelebihan Dan Kekurangan Penerapan Ppdb Online


Setiap menjelang tahun fatwa baru, sekolah jauh hari mempersiapkan segala sesuatu untuk mendapatkan siswa baru. Tentu saja orang bau tanah juga sibuk untuk mendaftar. Memilih dan memilah sekolah mana yang cocok dan pas untuk anaknya, tentu saja sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Sudah beberapa tahun terakhir ini, ada akomodasi online untuk penerimaan peserta didik gres (PPDB). Beberapa pihak telah mencoba menerapkan Teknologi Informasi (TI) pada proses PPDB. Walau pun sudah memanfaatkan TI, proses PPDB juga berlangsung secara sanggup berdiri diatas kaki sendiri di sekolah masing-masing. Dari hal itu, tentu saja ada kelebihan dan kekurangan dari penerapan PPDB online ini.

Kelebihan penerapan PPDB online


1. Efisiensi Pelaksanaan PPDB

Sistem PPDB daring menjadi mahal bila sistem dibangun sendiri oleh sekolah atau dinas. Tetapi biaya sistem PPDB menjadi sangat terjangkau bila dinas pendidikan memakai jasa layanan yang telah tersedia ibarat SIAP PPDB Online dari Telkom Indonesia.

Beberapa penyedia bahkan telah menyediakan layanan PPDB secara gratis. Pihak dinas tinggal fokus pada bidang dan keahliannya, yaitu menciptakan kebijakan seleksi PPDB yang baik dan melayani masyarakat selama proses PPDB.

2. Memudahkan Masyarakat

Di periode yang serba online ibarat kini ini, dimana hampir semua orang pegang internet apalagi sudah zamannya smartphone. Dengan demikian, adanya PPDB online ini sanggup memudahkan masyarakat untuk mendaftar ke sekolah pilihan mereka tanpa memantau pribadi ke sekolah sebab cukup dilakukan dari smartphone mereka.

3. Seleksi yang Terbuka, Jujur, dan Adil

Teknologi isu yang dibangun dengan baik dan benar sanggup mengakibatkan proses PPDB berlangsung secara terbuka, jujur, dan adil sesuai dengan hukum dan kebijakan yang diberlakukan.

4. Meningkatkan Mutu Layanan Pendidikan

Masyarakat Indonesia kini ialah masyarakat yang pintar, terbuka, dan demokratis. Selain bersifat terbuka dan adil, masyarakat kini menuntut layanan pemerintahan yang gampang dan cepat. Dalam layanan berbasis TI perlu adanya sistem TI yang dirancang dengan baik sehingga layanan bisa diakses secara cepat dan gampang pula. Namun membangun sistem TI yang baik dan andal juga bukan hal yang mudah.

5. Ketersediaan Data Pendidikan yang Absah

Keterlibatan pihak ketiga sebagai penyedia sistem PPDB bila dilakukan kerjasama yang baik dengan pihak yang bisa dipercaya akan menghilangkan adanya pelanggaran terhadap keamanan dan kerahasiaan data. Data yang dikelola oleh pihak yang andal dan terpercaya akan meningkatkan kepercayaan masyarakat pada sistem PPDB.

Data dan isu yang masuk selalu dipastikan kebenarannya kemudian dikelola untuk menghasilkan data yang akurat. Sistem daring tidak hanya bisa diakses melalui internet, tapi juga bisa memproses data secara cepat dalam waktu-nyata. Jika ada data gres atau berubah di detik ini, data tersebut sudah harus bisa ditampilkan pada detik selanjutnya. Dengan pengolahan data secara daring waktu-nyata, sistem PPDB meminimalkan kesalahan data.

Kekurangan penerapan PPDB online


1. Berbiaya Mahal

Alasan biaya mahal yang dikeluhkan pada sistem PPDB mengacu pada dua hal, yaitu biaya pembuatan dan biaya pelaksanaan. Biaya pembuatan sistem PPDB secara teknis memang mahal, mencakup antara lain penyediaan komputer server, pembangunan sistem sesuai kebijakan yang berlaku, serta biaya training bagi operator registrasi di sekolah-sekolah.

Biaya pelaksanaan PPDB juga dianggap mahal sebab kebutuhan komputer pada proses pendaftaran, kebutuhan langganan sambungan internet di daerah pendaftaran, serta biaya sosialisasi metode gres PPDB yang belum banyak dikenal masyarakat.

2. Masyarakat Belum Paham Internet

Proses registrasi melalui aplikasi dianggap terlalu canggih bagi masyarakat kita. Sistem belum waktunya untuk diterapkan pada masyarakat kita yang oleh sebagian kalangan masih dianggap gagap teknologi alias gaptek. Alih-alih akan memudahkan pelaksanaan PPDB, dikhawatirkan sistem akan mempersulit siswa dan orang tuanya dalam mengikuti PPDB. Ditambah lagi biaya sambungan internet yang dianggap menambah beban biaya siswa dan orang tuanya dalam mengikuti PPDB secara online.

3. Tidak Kebal Kecurangan

Sistem PPDB online dianggap tidak bisa menuntaskan persoalan klasik dalam proses PPDB, yaitu kecurangan. Walaupun hampir seluruh penyedia sistem PPDB online menyatakan PPDB secara online akan mencegah terjadinya kecurangan, namun pada prakteknya kecurangan-kecurangan ditengarai masih tetap terjadi.

4. Sistem yang Tidak Layak

Dalam beberapa pelaksanaan PPDB online di beberapa kota, terjadi masalah dimana sistem yang dipakai tergangggu ibarat sambungan internet yang lambat alias lemot, situs web PPDB tidak bisa diakses, hasil penerimaan yang tidak sesuai dengan hukum yang berlaku, dan beberapa gangguan lainnya. Dalam beberapa kasus, gangguan sistem bisa mengakibatkan kericuhan di masyarakat, ibarat demonstrasi dan tindakan penyegelan sekolah atau dinas pendidikan, akhir ketidak-puasan masyarakat pada proses dan hasil pelaksanaan PPDB online.

5. Jaminan Keamanan Data

Beberapa sistem PPDB online disediakan oleh pihak ketiga yang bukan dari lingkungan Kemendikbud. Hal ini menjadi perhatian sebagian kalangan dan mempertanyakan jaminan keamanan data PPDB yang berada di server milik pihak ketiga tersebut. Kekhawatiran ini cukup beralasan sebab data-data dalam proses PPDB bisa dimanfaatkan untuk hal-hal negatif bila jatuh pada pihak yang tidak bertanggung jawab. Apalagi di jaman kini kejahatan di internet semakin marak terjadi.

Nah dari semua klarifikasi diatas, tentu kita sudah bisa menilai. dimana ada kelebihan disitu niscaya ada kekurangan juga. Kita laksanakan, kita sukseskan pelaksanaan PPDB online dengan segala kemudahan yang ada, namun kita juga harus waspada terhadap pengaruh negatif yang mungkin terjadi.

Referensi : /search?q=

Thursday, 12 September 2019

Jadi Berakal 6 Prinsip Dan Kompetensi Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin


Peran Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin Pembelajaran. Kepemimpinan pembelajaran merupakan tindakan yang mengarah pada terciptanya iklim sekolah yang bisa mendorong terjadinya proses pembelajaran yang optimal. Tindakan yang dilakukan (Kepala sekolah) untuk menyebarkan lingkungan kerja yang produktif dan memuaskan bagi guru pada akhirya bisa membuat kondisi mencar ilmu siswa semakin meningkat

Kepemimpinan pembelajaran merupakan tindakan kepala sekolah/madrasah dalam; mempengaruhi, menggerakan, mengarahkan, mengembangkan, memberdayakan guru. Sehingga tercipta kondisi sekolah yang aman sebagai daerah pembelajaran berproses secara optimal.

Peran Kepala Sekolah


  • Merumuskan tujuan pembelajaran
  • Mengalokasikan sumber daya dalam pembelajaran,
  • Mengelola kurikulum
  • Memonitor perencanaan pembelajaran,
  • Mengevaluasi pelaksanaan kiprah guru.

Yang bertujuan untuk Meningkatkan kiprah guru dalam memfasilitasi siswa menyebarkan prestasi , kepuasan belajar, motivasi, keingintahuan, kreativitas, inovasi, jiwa kewirausahaan, dan kesadaran untuk mencar ilmu sepanjang hayat.

Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin


  1. Sebagai penyedia sumber daya, memperlihatkan kemampuan dan administrasi waktu dan sumber daya  secara efektif, memperlihatkan kondisi kelas sebagai master pengubah, dan bisa mengenal dan memotivasi anggota staf sekolah,
  2. Sebagai sumber instruksional’ terlihat dan memajukan kondisi kelas yang efektif untuk menunjang hasil belajar, mendorong staf pengajar untuk memakai banyak sekali macam materi pengajaran dan seni administrasi mencar ilmu mengajar, menawarkan perhatian dan bisa menyebarkan gagasan inovatif.
  3. Sebagai komunikator, memberikan visi sekolah secara jelas, memahami tujuan sekolah serta bisa menerjamahkan, membina hubungan yang efektif dengan stakeholders, terang dalam menyampaian sesuatu baik mulut maupun tulisan. Keempat, kehadirannya bermakna; bisa berinteraksi dan mensugesti seluruh lingkungan sekolah (Guru, staf, siswa dan petugas lainnya.

Semakin berdaya kiprah kepala sekolah dalam mengarahkan, memotivasi, dan mensugesti guru dalam proses mencar ilmu mengajar maka sanggup meningkatkan efektivitas siswa belajar

6 Prinsip Kepala Sekolah


  1. Membangun tujuan bersama
  2. Meningkatkan kreasi dan penemuan dalam menyebarkan kurikulum
  3. Mengembangkan motivasi pendidik dalam menyebarkan kompetensi
  4. Menjamin pelaksanaan mutu proses pembelajaran  melalui pelaksanaan monitoring atau supervisi
  5. Mengembangkan sistem penilaian dalam memantau perkembangan mencar ilmu siswa
  6. Mengambil keputusan berbasis data.

Rencana Tindak Strategis Kepala Sekolah


  1. Memfasilitasi penyusunan tujuan pembelajaran dan standar pembelajaran
  2. Melakukan sosialisasi tujuan pembelajaran dan standar pembelajaran
  3. Memfasilitasi pembentukan kelompok kerja guru
  4. Menerapkan ekspektasi yang tinggi
  5. Melakukan penilaian kinerja guru dan tindak lanjut pengembangannya
  6. Membentuk kultur sekolah yang aman bagi pembelajaran
  7. Membangun learning person dan learning school
  8. Menyediakan sebagian besar waktu untuk pembelajaran dan selalu mempunyai waktu untuk guru dan siswanya
  9. Melayani dengan prima kepada guru, siswa, dan orang renta siswa
  10. Melakukan koordinasi terhadap guru, siswa, dan orangtua siswa
  11. Melakukan monitoring dan penilaian terhadap keberhasilan pembelajaran jawaban

Kompetensi Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin


  1. Merumuskan tujuan pembelajaran
  2. Mengarahkan dan membimbing pengembangan kurikulum
  3. Membimbing pengembangan dan perbaikan proses mencar ilmu mengajar (PBM)
  4. Mengevaluasi kinerja guru dan mengembangkannya
  5. Membangun komunitas pembelajaran
  6. Menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional
  7. Melayani siswa dengan prima
  8. Melakukan perbaikan secara terus menerus
  9. Menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif
  10. Membangun Warga Sekolah semoga Pro-perubahan
  11. Membangun teamwork yang kompak
  12. Memberi referensi dan menginspirasi warga sekolah  

PENJELASAN

1. Merumuskan tujuan pembelajaran


Secara bersama-sama, kepala sekolah dan guru merumuskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, menyepakati cara-cara yang akan ditempuh untuk mencapai tujuan pembelajaran dan melaksanakannya secara konsisten untuk mencapai tujuan pembelajaran.

2. Mengarahkan dan membimbing pengembangan kurikulum


Kepala sekolah mengarahkan dan membimbing para guru dalam menyebarkan kurikulum, mulai dari: perumusan visi, misi, dan tujuan sekolah; pengembangan struktur dan muatan kurikulum; dan pembuatan kalender sekolah.

3. Membimbing pengembangan dan perbaikan proses mencar ilmu mengajar (PBM)


Kepala sekolah mempunyai kemampuan dalam membimbing dan memfasilitasi perbaikan proses mencar ilmu mengajar yang mencakup perencanaan, pelaksanaan dan penilaian pembelajaran serta pengelolaan kelas.

4. Mengevaluasi kinerja guru dan mengembangannya


Secara periodik, kepala sekolah melaksanakan penilaian kinerja guru untuk mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan kinerja guru serta mengidentifikasi kebutuhan-kebutuhan pengembangan keprofesian guru

5. Membangun komunitas pembelajaran


Komunitas pembelajaran yaitu suatu komunitas (warga sekolah) yang mempunyai kesamaan nilai-nilai pembelajaran yang dianut sebagai sumber penggalangan konformisme sikap dan sikap bagi warga sekolah dalam rangka untuk mencapai tujuan pembelajaran. . Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus mempunyai kemampuan membangun komunitas pembelajaran di sekolahnya

6. Menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional


Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus bisa menerapkan kepemimpinan visioner dan situasional sekaligus. Kepemimpinan visioner yaitu kepemimpinan yang mendasarkan pada visi yang ingin dicapai di masa depan,sedang kepimpinan situasional yaitu kepemimpinan yang mempertimbangkan situasi yang sedang dihadapi. Kombinasi dari kedua jenis kepemimpinan tersebut akan bisa memberi ide dan mendorong terjadinya pembelajaran yang futuristik dan kontekstual sekaligus.

7. Melayani siswa dengan prima


Kepala sekolah harus bisa mengajak guru dan karyawan untuk menawarkan layanan pembelajaran kepada siswa secara prima dan siswa merupakan pelanggan utama sekolah yang harus menjadi fokus perhatian warga sekolah

8. Melakukan perbaikan secara terus menerus


Kepala sekolah sebagai pemimpin pembelajaran harus mempunyai kemampuan untuk melaksanakan perbaikan secara terus menerus, yang dimulai dari perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, refleksi, dan revisi terhadap perencanaan berikutnya, dan siklusnya diulang-ulang

9. Menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif


Pemimpin pembelajaran harus selalu menerapkan karakteristik kepala sekolah efektif. Kepala sekolah efektif melaksanakan hal-hal berikut: luwes dalam pengendalian, membangun teamwork di sekolahnya, akad besar lengan berkuasa terhadap pencapaian visi dan misi sekolah, menghargai guru dan karyawan atas dedikasinya, memecahkan persoalan secara kolaboratif, melaksanakan delegasi secara efektif, dan fokus pada proses mencar ilmu mengajar (pembelajaran).

10. Membangun Warga Sekolah semoga Pro-perubahan


Salah satu ciri utama seorang pemimpin pembelajaran yaitu mempunyai visi dan misi yang terang dan mempunyai cara-cara untuk menggerakkan warga sekolahnya untuk mencapainya. Untuk itu, ia harus bisa mengarahkan, membimbing, memotivasi, mempengaruhi, memberi insprirasi, dan mendukung prakarsa-prakarsa baru, kreativitas, inovasi, dan inisiasi dalam pengembangan pembelajaran.

11. Membangun teamwork yang kompak


Pemimpin pembelajaran harus bisa membangun teamwork yang kompak, cerdas, dinamis, harmonis, dan lincah. Pelibatan, partisipasi, dan pengabdian warga sekolah sangat diharapkan dalam rangka membangun teamwork yang dimaksud.

12. Memberi referensi dan menginspirasi warga sekolah


Memberi referensi dalam banyak sekali hal contohnya komitmen,disiplin, nyaman terhadap perubahan, kasih sayang terhadap siswa, semangat kerja, dsb. yaitu merupakan bab penting dari karakteristik seorang pemimpin pembelajaran. Tidak kalah penting, seorang pemimpin pembelajaran selalu memberi ide kepada guru, karyawan, dan terutama siswanya untuk mempelajari dan menikmati hal-hal yang belum diketahui, dan bisa membangun kondisi rasa keingintahuan dari seluruh warga sekolahnya.

Jadi Arif Kompetensi Yang Harus Dimiliki Seorang Guru


Kompetensi Yang Harus Dimiliki Seorang Guru. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 wacana Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Dijelaskan bahwa Standar Kompetensi Guru dikembangkan secara utuh dari 4 kompetensi utama, yaitu: (1) kompetensi pedagogik, (2) ke-pribadian, (3) sosial, dan (4) profesional. Keempat kompetensi tersebut terin-tegrasi dalam kinerja guru.

Pertanyaan: Berkenaan dengan aspek-aspek yang diamati oleh pengawas, Kemampuan apa saja yang harus dimiliki guru berkenaan dengan kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, profesional?

Kompetensi Pedagogik


Kompetensi pedagogik yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru ber-kenaan dengan karakteristik siswa dilihat dari banyak sekali aspek menyerupai moral, emosional, dan intelektual. Berkenaan dengan aspek-aspek yang diamati oleh pengawas, kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan dengan kompetensi pedagogik adalah:

  1. Penguasaan terhadap karakteristik akseptor didik dari aspek fisik, moral, sosial, kultural, emosional dan intelektual.
  2. Penguasaan terhadap teori berguru dan prinsip-prinsip pembelajaran yang mendidik.
  3. Mampu membuatkan kurikulum yang terkait dengan bidang pengem-bangan yang diampu.
  4. Menyelenggarakan acara pengembangan yang mendidik.
  5. Memanfaatkan teknologi gosip dan komunikasi untuk kepentingan penyelenggaraan acara pengembangan yang mendidik.
  6. Memfasilitasi pengembangan potensi akseptor didik untuk mengaktualisa-sikan banyak sekali potensi yang dimiliki.
  7. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan akseptor didik.
  8. Melakukan penilaian dan penilaian proses dan hasil belajar, memanfaatkan hasil penilaian dan penilaian untuk kepentingan pembelajaran.
  9. Melakukan tindakan reflektif untuk peningkatan kualitas pembelajaran.

Kompetensi Kepribadian


Kompetensi kepribadian mencakup pelaksanaan kiprah sebagai guru yang harus didukung oleh suatu perasaan besar hati akan kiprah yang dipercayakan kepadanya untuk mempersiapkan generasi berkualitas masa depan bangsa. Walaupun berat tantangan dan rintangan yang dihadapi dalam pelaksanaan tugasnya harus tetap tegar dalam melaksa-kan kiprah sebagai seorang guru.

Berkenaan dengan aspek-aspek yang diamati oleh pengawas, kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan dengan kompetensi kepribadian adalah:

  1. Bertindak sesuai dengan norma agama, hukum, sosial, dan kebudayaan nasional Indonesia.
  2. Menampilkan diri sebagai langsung yang jujur, berakhlak mulia, dan teladan bagi akseptor didik dan masyarakat.
  3. Menampilkan diri sebagai langsung yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa.
  4. Menunjukan etos kerja, tanggung jawab yang tinggi, rasa besar hati men-jadi guru, dan rasa percaya diri.
  5. Menjunjung tinggi aba-aba etik profesi guru.

Kompetensi Sosial


Kompetensi sosial berkenaan dengan guru di mata masyarakat dan siswa merupakan panutan yang perlu dicontoh dan merupkan suri-tauladan dalam kehidupanya sehari-hari. Berkenaan dengan aspek-aspek yang diamati oleh pengawas, kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan dengan kompetensi sosial adalah:

  1. Bertindak objektif serta tidak diskriminatif alasannya yakni pertimbangan jenis kelamin, agama, ras, kondisi fisik, latar belakang keluarga, dan status sosial ekonomi.
  2. Berkomunikasi secara efektif, empatik, dan santun dengan sesama pendidik, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat.
  3. Beradaptasi di daerah bertugas di seluruh wilayah Republik Indonesia yang mempunyai keragaman sosial budaya.
  4. Berkomunikasi dengan komunitas profesi sendiri dan profesi lain secara ekspresi dan goresan pena atau bentuk lain.

Kompetensi Profesional


Kompetensi Profesional yaitu kemampuan yang harus dimiliki guru da-lam perencanaan dan pelaksanaan proses pembelajaran. Berkenaan dengan aspek-aspek yang diamati oleh pengawas, kemampuan yang harus dimiliki guru berkenaan dengan kompetensi PROFESIONAL adalah:

  1. Menguasai materi, struktur, konsep, dan pola pikir keilmuan yang mendu-kung mata pelajaran yang diampu.
  2. Menguasai Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar mata pelajaran/ bidang pengembangan yang diampu.
  3. Mengembangkan bahan pelajaran yang diampu secara kreatif.
  4. Mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan melaksanakan tindakan reflektif
  5. Memanfaatkan teknologi gosip dan komunikasi untuk berkomunikasi dan membuatkan diri

Jadi Terpelajar Pendidikan Tidak Cukup Hanya Di Sekolah Saja


Biasanya orang renta senang dengan keberhasilan anaknya. Apalagi jikalau anaknya sudah sanggup bekerja di forum atau perusahaan populer dengan honor besar melebihi penghasilan orang tuanya dan sanggup menyebarkan akomodasi menyerupai kendaraan, rumah, dan lain sebagainya. Namun, tidak cukup hanya itu saja alasannya ialah pada hakikatnya masih ada yang lebih membahagiakan orang tua. Yaitu: senang alasannya ialah anaknya taat beribadah, dan taat terhadap orang tua.

Kebahagiaan yang sifatnya bahan hanya sebatas kebahagiaan fisik saja, sehingga sebagian orang renta hal itu diletakkan pada posisi terakhir. Alasannya sederhana sekali;

  1. Untuk apa punya banyak harta kendaraan beroda empat mewah, rumah mewah, apartement, dan lainnya, jikalau anak selalu menyakiti orang tua?
  2. Untuk apa gembira punya anak kaya raya, jikalau setiap hari pulang malam dalam keadaan mabuk?
  3. Untuk apa punya penghasilan besar, jikalau anak kita selalu "bermasalah" dengan istri orang?

Kebahagiaan terhadap kesuksesan bahan itu bersifat relatif, sedangkan kebahagiaan terhadap kesuksesan moralitas itu merupakan kebahagian yang sejati.

"Apakah ada orang renta yang benar-benar sanggup berbahagia mempunyai anak yang sukses secara materi, namun tidak berbakti kepada Tuhan dan orang tuanya?"
Seorang anak yang berbakti kepada Tuhan dan kepada orang tuanya, berarti beliau membuka jalan ke arah kesuksesan yang sejati. Untuk itu, sering-seringlah orang renta menasehati anaknya semoga tidak hanya terpaku untuk mencapai kesuksesan duniawi semata tanpa memperhatikan ketaatan kepada Tuhan dan orang tuannya.

Boleh lah anak anda yang masih ada di dingklik sekolah berilmu di kelas dan meraih rangking pertama di sekolah. Namun, hal itu tidak ada artinya jikalau tidak didasari taat kepada taat kepada Tuhan dan orang tuanya.

Orang renta mempunyai perang yang sangat besar sekali dalam membentuk anak yang taat kepada Tuhan dan orang tua. Kedua ketaatan itu, harus ditanamkan sejak usia dini oleh kedua orang tuanya. Untuk membentuk anak yang taat, tidak cukup hanya dengan mengandalkan sekolah. Sangat diperlukan tugas aktif dari orang tuanya untuk mendidik anaknya.

Selain membekali anak dengan pendidikan formal di sekolah, mereka juga perlu dibekali dengan pendidikan agama secara non formal dan informal baik melalui sekolah diniyah, maupun dengan memperlihatkan pendidikan agama komplemen dengan mendatangkan guru agama ke rumah.

Bisa juga dengan mengirim anak untuk berguru secara khusus kepada seorang ustadz untuk berguru secara sorogan (langsung berhadapan dengan soerang guru) menyerupai halnya di pesantren.

Selain memperlihatkan pendidikan agama secara khusus, orang renta dituntut untuk terlibat secara intensif dalam memperkenalkan aliran agama, melatih menjalankannya dan membimbing hingga anak sanggup bangun diatas kaki sendiri dalam melaksanakan aliran agama. Terutama terhadap pelaksanaan aliran agama sehari-hari menyerupai shalat lima waktu.

Sejak usia tiga tahun, anak sudah diajak untuk melaksanakan shalat berjamaah. Meski shalat subuh hanya satu rakaat, shalat maghrib dua rakat itu tidak mengapa. Yang ditekankan itu supaya anak tahu akan waktu shalat. Namun, seiring dengan semakin bertambah usianya, didiklah untuk melaksanakan shalat sebagaimana mestiya.

Mendidik anak yang taat, suami istri sanggup menyebarkan tugas ketika salah satunya beraktifitas keluar rumah, untuk meluangkan waktu mencurahkan perhatian terhadap mendidik anak. Untuk membentuk huruf anak yang taat, orang renta memegang tugas yang sangat penting.

Jika orang renta tidak sanggup mengajar menyerupai di sekolah, maka harus menjadi pendidik dengan memperlihatkan pola yang baik kepada anaknya. Meski di sekolah sudah diajarkan wacana shalat atau tata cara shalat berjamaah, tapi di rumah tidak pernah ada yang berjamaah atau bahkan tidak ada yang shalat, apakah anak akan melaksanakan shalat? Menyuruh anak untuk shalat tapi orang renta sendiri tidak shalat. Bagaimana berdasarkan anda?

Karena itulah, orang renta harus lebih menjaga anaknya untuk tidak meninggalkan kewajiban kewajiban kepada Allah dan RasulNya, juga kepada orang tua. Sebagaimana Firman Allah SWT:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَّحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kau dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, Kamilah yang memberi rezki kepadamu. Dan tanggapan (yang baik) itu ialah bagi orang yang bertakwa. (QS. Thaahaa, 132)