Showing posts sorted by relevance for query pengertian-penilaian-dan-penilaian-autentik. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query pengertian-penilaian-dan-penilaian-autentik. Sort by date Show all posts

Monday, 25 March 2019

Jadi Pintar Pengertian, Bentuk Dan Proses Evaluasi Autentik Kurikulum 2013


Penilaian autentik ialah evaluasi yang mengharuskan siswa untuk mengatakan pengetahuan (knowledge), sikap (afective), keterampilan (skills) dan kemampuannya (ability) dalam situasi yang faktual /real life situations (Popham, 1995; Bookhart, 2001).

A. Tes yang Autentik

Suatu TES dikatakan Autentik, jika:

  1. mensyaratkan kemampuan menerapkan pengetahuan
  2. konteks/situasi faktual (real world situation)
  3. konteks sesuai kehidupan siswa
  4. ada informasi/data yang cukup bagi siswa untuk menerapkan pengetahuannya

B. Penilaian Autentik


  1. Dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran.
  2. Terpadu dengan pembelajaran.
  3. Menilai kesiapan, proses, dan hasil berguru penerima didik secara utuh.
  4. Meliputi ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan.
  5. Relevan dengan pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran.
  6. Mencerminkan duduk kasus dunia nyata.
  7. Tidak hanya mengukur apa yang diketahui oleh penerima didik, tetapi lebih menekankan mengukur apa yang sanggup dilakukan oleh penerima didik.

C. Bentuk Penilaian


  1. Standar Penilaian Pendidikan ialah kriteria mengenai mekanisme, prosedur, dan instrumen evaluasi hasil berguru penerima didik.
  2. penilaian autentik,
  3. penilaian diri,
  4. penilaian berbasis portofolio,
  5. ulangan harian,
  6. ulangan tengah semester,
  7. ulangan final semester,
  8. ujian tingkat kompetensi,
  9. ujian mutu tingkat kompetensi,
  10. ujian nasional, dan
  11. ujian sekolah

1. Penilaian Oleh Pendidik


Penilaian oleh pendidik sanggup berupa tes dan non tes yang dilakukan melalui ulangan dan penugasan, untuk mengukur kompetensi penerima didik secara berkelanjutan, memantau kemajuan, dan memperbaiki hasil berguru penerima didik.

Baca:
Konsep Penilaian Autentik
Contoh Penerapan Penilaian Autentik

2. Penilaian Oleh Satuan Pendidikan


  • Satuan pendidikan mengoordinasikan ulangan tengah semester dan ulangan final semester, serta melaksanakan ujian tingkat kompetensi dan ujian sekolah
  • Ujian Tingkat Kompetensi (UTK) dilakukan untuk mengetahui pencapaian tingkat kompetensi.
  • Cakupan UTK mencakup sejumlah KD yang merepresentasikan KI pada tingkat kompetensi tersebut.
  • UTK untuk Sekolah Menengan Atas dilaksanakan pada final kelas XI memakai kisi-kisi dari pemerintah
  • Ujian Sekolah dilaksanakan pada final kelas XII

3. Penilaian Oleh Pemerintah


  • Penilaian oleh pemerintah berupa Ujian Mutu Tingkat Kompetensi dan Ujian Nasional
  • Ujian Mutu Tingkat Kompetensi (UMTK) dilakukan untuk mengetahui pencapaian tingkat kompetensi.
  • Cakupan UMTK mencakup sejumlah KD yang merepresentasikan KI pada tingkat kompetensi tersebut
  • UMTK dilakukan dengan metode survei pada final kelas II, IV, VIII dan XI.
  • Ujian Nasional dilaksanakan pada final kelas VI, IX, dan XII.

4. Penilaian Kompetensi Sikap


  • Penilaian kompetensi sikap dilakukan melalui observasi, evaluasi diri (self assessment), evaluasi antarpeserta didik (peer assessment), dan jurnal.
  • Instrumen observasi, evaluasi diri, dan evaluasi antarpeserta didik berupa daftar cek (check list) atau skala evaluasi (rating scale) disertai rubrik. Jurnal berupa catatan guru wacana kekuatan, kelemahan, sikap dan sikap penerima didik di dalam dan di luar kelas.
  • Rubrik ialah daftar kriteria yang mengatakan kinerja, aspek yang akan dinilai, dan gradasi mutu.
  • Observasi merupakan teknik evaluasi yang dilakukan secara berkesinambungan dengan memakai indera, baik secara pribadi maupun tidak pribadi dengan memakai pedoman observasi yang berisi sejumlah indikator sikap yang diamati.
  • Penilaian diri merupakan evaluasi yang dilakukan sendiri oleh penerima didik secara reflektif untuk membandingkan posisi relatifnya dengan kriteria yang telah ditetapkan.
  • Penilaian antar penerima didik merupakan teknik evaluasi dengan cara meminta penerima didik untuk saling menilai terkait dengan pencapaian kompetensi.
  • Jurnal merupakan catatan pendidik di dalam dan di luar kelas yang berisi warta hasil pengamatan wacana kekuatan dan kelemahan penerima didik yang berkaitan dengan sikap dan perilaku.

5. Penilaian Kompetensi Pengetahuan


  • Penilaian kompetensi pengetahuan dilakukan melalui tes tulis, tes lisan, dan penugasan.
  • Instrumen tes berupa seperangkat butir soal. Soal tes tulis yang sering dipakai di Sekolah Menengan Atas ialah bentuk pilihan ganda dan uraian.
  • Untuk tes verbal perlu disiapkan daftar pertanyaan yang disampaikan secara pribadi dalam bentuk tanya jawab.
  • Instrumen penugasan berupa kiprah PR atau proyek yang sanggup dikerjakan secara individual atau kelompok sesuai karakteristik tugas.
  • Instrumen evaluasi harus memenuhi kaidah substansi (materi), konstruksi, dan bahasa.

6. Penilaian Kompetensi Keterampilan


  • Penilaian kompetensi keterampilan dilakukan melalui pengamatan kinerja yang meminta penerima didik mendemonstrasikan kompetensi tertentu, melalui tes praktik, proyek, atau evaluasi portofolio.
  • Instrumen evaluasi keterampilan berupa daftar cek (check list) atau skala evaluasi (rating scale) disertai rubrik
  • Tes praktik menuntut penerima didik melaksanakan keterampilan berupa kegiatan yang sesuai dengan tuntutan kompetensi.
  • Proyek ialah kiprah yang mencakup kegiatan perancangan, pelaksanaan, dan pelaporan yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu.
  • Penilaian portofolio dilakukan dengan cara menilai kumpulan karya penerima didik dalam bidang tertentu yang bersifat reflektif integratif.

Friday, 13 September 2019

Jadi Cendekia Pengertian Evaluasi Dan Evaluasi Autentik


Penilaian (assesment) yaitu proses pengumpulan dan pengolahan isu untuk mengukur pencapaian hasil mencar ilmu akseptor didik.

Penilaian autentik merupakan evaluasi yang dilakukan secara komprehensif untuk menilai mulai dari masukan (input), proses, dan keluaran (output) pembelajaran, yang mencakup ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan.

Prinsip dan Pendekatan Penilaian


  • Objektif
  • Terpadu
  • Ekonomis
  • Transparan
  • Akuntabel
  • Sistematis
  • Edukatif

Teknik dan Instrumen Penilaian


Teknik dan instrumen yang dipakai untuk evaluasi kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan memiliki karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya
Instrumen yang dipakai untuk observasi, evaluasi diri, dan evaluasi antarpeserta didik yaitu lembar pengamatan berupa daftar cek (checklist) atau skala evaluasi (rating scale) yang disertai rubrik, sedangkan pada jurnal berupa catatan pendidik.

Mekanisme Penilaian


  1. Penilaian oleh pendidik
  2. Penilaian oleh satuan pendidikan
  3. Penilaian oleh pemerintah dan/atau forum mandiri

Prosedur evaluasi oleh pendidik


a. Tahap persiapan:

  • Mengkaji kompetensi dan silabus sebagai pola dalam menciptakan rancangan dan kriteria penilaian;
  • Membuat rancangan dan kriteria penilaian;
  • Mengembangkan indikator;
  • Memilih teknik evaluasi sesuai dengan indikator;
  • Mengembangkan instrumen dan pedoman penskoran

b. Tahap pelaksanaan

Pelaksanaan evaluasi dalam proses pembelajaran diawali dengan penelusuran. Penelusuran dilakukan dengan memakai teknik bertanya untuk mengeksplorasi pengalaman mencar ilmu sesuai dengan kondisi dan tingkat kemampuan akseptor didik Melaksanakan tes dan/atau nontes

c. Tahap analisis/pengolahan dan tindak lanjut

  • Hasil evaluasi oleh pendidik dianalisis lebih lanjut untuk mengetahui kemajuan dan kesulitan mencar ilmu (lihat Model Pengembangan Analisis Hasil Belajar Peserta Didik).
  • Hasil evaluasi dikembalikan kepada akseptor didik disertai balikan (feedback) berupa komentar yang mendidik (penguatan).
  • Hasil analisis ditindaklanjuti dengan layanan remedial dan pengayaan, serta memanfaatkannya untuk perbaikan pembelajaran.
  • Penilaian kompetensi perilaku spiritual dan sosial dilakukan oleh semua pendidik selama satu semester, balasannya diakumulasi dan dinyatakan dalam bentuk deskripsi kompetensi perilaku oleh wali kelas

d. Tahap pelaporan

  • Hasil evaluasi dilaporkan kepada pihak terkait
  • Laporan hasil penilaian kompetensi pengetahuan dan keterampilan oleh pendidik berbentuk nilai dan/atau deskripsi pencapaian kompetensi.
  • Laporan hasil evaluasi kompetensi perilaku spiritual dan sosial dalam bentuk deskripsi sikap.
  • Laporan hasil evaluasi oleh pendidik disampaikan kepada kepala sekolah dan pihak lain yang terkait (misal: wali kelas, guru Bimbingan dan Konseling, dan orang tua/wali) pada periode yang ditentukan

Prosedur evaluasi oleh satuan pendidikan


  1. Tahap persiapan
  2. Tahap pelaksanaan
  3. Tahap analisis/pengolahan hasil evaluasi dan tindak lanjut
  4. Tahap pelaporan

Prosedur evaluasi oleh pemerintah dan/atau forum mandiri


Penilaian hasil mencar ilmu oleh Pemerintah dilakukan melalui Ujian Mutu Tingkat Kompetensi (UMTK) dan Ujian Nasional (UN), sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Thursday, 13 December 2018

Jadi Berilmu Modul Penyusunan Soal Hots (Higher Order Thinking Skills)


Modul Penyusunan Soal Higher Order Thinking Skills (HOTS). Modul ini terdiri atas 3 (tiga) bahan pokok yang disusun sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan guru dalam penyusunan soal-soal HOTS . Penyajian bahan pada modul ini diawali dengan pemaparan fokus dan uraian bahan pada masing-masing bahan pokok. Sedangkan pada bab selesai modul dilengkapi dengan penugasan dan refleksi.

Materi-materi pokok dalam modul ini yakni sebagai berikut :

  1. Materi Pokok 1: Pengertian dan Konsep Soal HOTS
  2. Materi Pokok 2: Peran Soal HOTS dalam Penilaian
  3. Materi Pokok 3: Strategi dan Implementasi Penyusunan Soal HOTS

Soal-soal HOTS merupakan instrumen pengukuran yang dipakai untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, yaitu kemampuan berpikir yang tidak sekadar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melaksanakan pengolahan (recite).

baca juga:
Panduan Penyusunan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skill) PDF


Soal-soal HOTS pada konteks asesmen mengukur kemampuan: 1) transfer satu konsep ke konsep lainnya, 2) memproses dan menerapkan informasi, 3) mencari kaitan dari banyak sekali informasi yang berbeda-beda, 4) memakai informasi untuk menuntaskan masalah, dan 5) menelaah wangsit dan informasi secara kritis. Meskipun demikian, soal-soal yang berbasis HOTS tidak berarti soal yang lebih sulit dari pada soal recall.

Sebagaimana yang telah disebutkan diatas, bahwa modul ini terdiri atas 3 (tiga) bahan pokok yang masing-masing membahas bahan yang saling berkaitan satu sama lain, terdiri atas:

1. Materi Pokok 1: Pengertian dan Konsep Soal HOTS


Bagian ini membahas perihal pengertian dan konsep soal HOTS, karakteristik soal-soal HOTS yang merupakan ciri khas soal HOTS dengan soal-soal bukan HOTS, level kognitif, dan langkah-langkah menyusun soal HOTS. Selain itu, pada bab ini juga dipaparkan perihal bentuk-bentuk soal HOTS.

2. Materi Pokok 2: Peran Soal HOTS dalam Penilaian


Bagian ini membahas perihal tugas soal HOTS dalam Penilaian disekolah, terkait dengan upaya penyiapan kompetensi yang diharapkan penerima didik menyongsong periode ke-21. Membangun kemampuan berpikir kreatif, inovatif, kritis, dan toleran serta kemampuan pemecahan problem merupakan kompetensi esensial yang sanggup dilatih berbasis pembelajaran dan evaluasi kelas.

baca juga:
Contoh Format Penilaian Autentik MA Sekolah Menengan Atas Sekolah Menengah kejuruan Kurikulum 2013
Kumpulan Contoh Daftar Nilai Kurikulum 2013 Untuk Guru Kelas SD MI


Peran soal HOTS lainnya dalam evaluasi yakni meningkatkan mutu penilaian, membangun rasa cinta dan peduli penerima didik terhadap kemajuan daerahnya, serta sanggup memotivasi siswa mencar ilmu sebagai bekal terjun ke masyarakat.

3. Materi Pokok 3: Strategi dan Implementasi Penyusunan Soal HOTS


Pada bab ini membahas perihal Strategi dan Implementasi Penyusunan Soal HOTS, dimulai dari kebijakan di tingkat sentra (Direktorat Pembinaan SMA), dinas pendidikan provinsi dan kabupaten/kota, hingga pada implementasinya pada tingkat satuan pendidikan. Semua komponen harus terlibat secara aktif untuk ikut ambil bab dalam melaksanakan kebijakan perihal evaluasi hasil mencar ilmu memakai soal-soal yang HOTS dalam Penilaian.

Download Modul Penyusunan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skills)


Selengkapnya bisa anda download pada link berikut ini:
Download

Itu saja dari aku perihal Modul Penyusunan Soal HOTS (Higher Order Thinking Skills) dalam bentuk format PDF, agar bermanfaat...

Friday, 13 September 2019

Jadi Berilmu Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning


Pengertian Model Pembelajaran CTL. Menurut Trianto (2009:107), model pembelajaran contextual teaching and learning (CTL) ialah konsep mencar ilmu yang membantu guru mengaitkan antara bahan yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat korelasi antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari – hari dengan melibatkan tujuh komponen pembelajaran kontekstual, yakni: konstruktivisme (constructivism), bertanya (questioning),inkuiri ( inquiry), masyarakat mencar ilmu (learning community), pemodelan (modelling), dan penilaian autentik (autenthic assessment).

Sedangkan berdasarkan Rusman (2012:190), model pembelajaran CTL merupakan suatu model pembelajaran yang memperlihatkan akomodasi kegiatan mencar ilmu siswa untuk mencari, mengolah, dan menemukan pengalaman mencar ilmu yang lebih bersifat nyata (terkait dengan kehidupan nyata) melalui keterlibatan kegiatan siswa dalam mencoba, melakukan, dan mengalami sendiri.

Berdasarkan kedua pendapat diatas sanggup disimpulkan bahwa model pembelajaran CTL ialah suatu konsep mencar ilmu yang membantu guru untuk mengaitkan antara bahan yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa sehingga memperlihatkan akomodasi mencar ilmu siswa untuk mencari, mengolah, dan menemukan pengalaman mencar ilmu yang lebih bersifat nyata melalui keterlibatan kegiatan siswa dengan melibatkan tujuh komponen pembelajaran kontekstual (kontruktivisme, bertanya, inkuiri, masyarakat belajar, pemodelan, dan penilaian autentik).

Dengan demikian kiprah guru dalam hal ini ialah membantu siswa mencapai tujuannya dengan cara mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang gres bagi anggota kelas (siswa) (Riyanto, 2010:160)

Prinsip Model Pembelajaran CTL


Menurut Suprijono (2011:80), prinsip – prinsip dalam model pembelajaran CTL antara lain

  • Prinsip Saling Ketergantungan

Prinsip saling ketergantungan merumuskan bahwa kehidupan ini merupakan suatu sistem, lingkungan mencar ilmu merupakan sistem yang mengintegrasikan banyak sekali komponen pembelajaran dan komponen tersebut saling menghipnotis secara fungsional. Berdasarkan prinsip itu siswa harus berafiliasi menemukan persoalan, merancang rencana dan mencari pemecahan masalah.Sebab dengan berafiliasi akan membantu siswa mencapai keberhasilan, mengingat setiap siswa memiliki kemampuan berbeda dan unik.

  • Prinsip Diferensiasi

Prinsip diferensiasi merujuk pada entitas-entitas yang beraneka ragam dari realitas kehidupan disekitar siswa. Keanekaragaman tersebut mendorong berpikir kritis siswa untuk menemukan korelasi antara entitas-entitas yang bermacam-macam itu.

  • Prinsip Pengaturan Diri

Prinsip pengaturan diri mendorong pentingnya siswa mengeluarkan seluruh potensi yang dimilikinya. Ketika siswa menghubungkan bahan akademik dengan konteks keadaan pribadi mereka, siswa terlibat dalam kegiatan yang mengandung prinsip pengaturan diri,siswa mendapatkan tanggung jawab atas keputusan dan sikap mereka sendiri, menentukan alternatif, membuat ,mengembangkan, informasi, dan secara kritis menilai bukti.

Komponen – Komponen Model Pembelajaran CTL


Menurut Riyanto (2010:169), model pembelajaran CTL terdiri dari tujuh komponen yaitu :

  • Konstruktivisme (constructivism)

Konstruktivisme ialah proses membangun atau menyusun pengetahuan gres dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman (sanjaya, 2011:264). Oleh alasannya ialah itu, siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan permasalahan, menemukan sesuatu yang berkhasiat bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide. Sehingga dalam dalam proses pembelajaran, siswa sanggup membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses mencar ilmu dan mengajar.

  • Menemukan (inquiry)

Dalam pembelajaran kontekstual pengetahuan dan yang diperoleh siswa bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi hasil dari menemukan sendiri.
Langkah – langkah kegiatan menemukan yaitu merumuskan masalah, mengamati atau melaksanakan observasi, menganalisis dan menyajikan hasil dalam tulisan, gambar laporan, bagan, tabel, atau karya lainnya dan mengomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, sahabat sekelas guru, atau audiensi yang lain.

  • Bertanya (Questioning)

Pengetahuan yang dimiliki seseorang, selalu bermula dari bertanya. Oleh alasannya ialah itu, dalam proses pembelajaran bertanya dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa. Bagi siswa bertanya merupakan penggalan penting dalam melaksanakan pembelajaran.

  • Masyarakat Belajar (Learning Community)

Konsep learning community menyarankan biar hasil pembelajaran diperoleh dari kerjasama dengan orang lain. Hasil mencar ilmu diperoleh dari sharing antar teman, antarkelompok, dan antara yang tahu ke yang belum tahu. Masyarakat mencar ilmu bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah antara dua kelompok atau lebih. Kelompok yang terlibat dalam masyarakat mencar ilmu memberi warta yang diharapkan oleh sahabat bicaranya dan sekaligus meminta warta yang diharapkan dari sahabat belajarnya.

  • Pemodelan (Modelling)

Dalam sebuah pembelajaran keterampilan dan pengetahuan tertentu, ada model yang bisa ditiru. Model itu bisa berupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola dalam olahraga, teladan karya tulis, cara melafalkan, atau guru memperlihatkan teladan cara mengejakan sesuatu.

  • Refleksi (Reflection)

Refleksi ialah cara berpikir wacana apa yang gres dipelajari atau berpikir ke belakang wacana apa-apa yang sudah dilakukan di masa yang lalu.
  • Penilaian Sebenarya (Authentic Assessment)

Assessment ialah proses penyampaian banyak sekali data yang memperlihatkan citra perkembangan mencar ilmu siswa. Gambaran wacana perkembangan mencar ilmu diharapkan sepanjang proses pembelajaran, sehingga assessment tidak dilakukan di simpulan periode pembelajaran menyerupai pada kegiatan penilaian hasil mencar ilmu tetapi dilakukan bersama secara terintegrasi dari kegiatan pembelajaran serta data yang dikumpulkan harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dilakukan siswa pada ketika proses pembelajaran.

Langkah-Langkah Model Pembelajaran CTL


Menurut Putra (2013:257) langkah – langkah model pembelajaran CTL yakni:

  1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan mencar ilmu lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri serta mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya.
  2. Laksanakan sejauh mungkin kegitan inkuiri untuk semua topik.
  3. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya.
  4. Ciptakan masyarakat belajar. Hadirkan model sebagai teladan pembelajaran.
  5. Lakukan refleksi di simpulan pertemuan.
  6. Lakukan penilaian yang bekerjsama (anthentic assessment) dengan banyak sekali cara.

Kelebihan dan Kelemahan Model Pembelajaran CTL


Setiap model pembelajaran memiliki kelebihan dan kelemahan. Demikian pula dengan model pembelajaran CTL.

  • Kelebihan Model Pembelajaran CTL

Menurut Putra (2013:259) kelebihan model pembelajaran CTL yaitu:

  1. Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut sanggup menangkap korelasi antara pengalaman mencar ilmu disekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting alasannya ialah dengan mengorelasikan bahan yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa bahan itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi bahan yang dipelajarinya akan tertanam akrab dalam memorinya, sehingga tidak gampang dilupakan.
  2. Pembelajaran lebih produktif dan bisa menumbuhkan penguatan konsep pada siswa, alasannya ialah pembelajaran kontekstual menganut aliran konstruktivisme, yakni siswa dituntut menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis Konstruktivisme siswa diharapkan mencar ilmu melalui “mengalami” bukan “menghafal”.
  3. CTL ialah model pembelajaran yang menekankan pada kegiatan siswa secara penuh, baik fisik maupun mental.
  4. Kelas dalam pembelajaran kontekstual bukan sebagai daerah untuk memperoleh informasi, tetapi sebagai daerah untu menguji data hasil temuan di lapangan.
  5. Materi pelajaran sanggup ditemukan sendiri oleh siswa, bukan hasil derma guru.
  • Kelemahan Model Pembelajaran CTL

Menurut Putra (2013:259) kelemahan model pembelajaran CTL yaitu:

  1. Diperlukan waktu yang cukup usang ketika proses pembelajaran CTL berlangsung.
  2. Jika guru tidak sanggup mengendalikan kelas, maka membuat suasana kelas yang kurang kondusif.
  3. Guru lebih intensif dalam membimbing. Sebab, dalam model CTL, guru tidak lagi berperan sebagai sentra informasi. Tugas guru ialah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang berafiliasi untuk menemukan pengetahuan dan keterampilan yang baru. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang.
  4. Guru memperlihatkan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan ide-ide serta mengajak siswa biar memakai strateginya sendiri dalam belajar. Namun, dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa biar tujuan pembelajaran sesuai dengan yang diterapkan semula.
  • Upaya Mengatasi Kelemahan Model Pembelajaran CTL

Menurut penulis, upaya untuk mengatasi kelemahan model pembelajaran CTL yaitu:

  1. Rencanakan proses pembelajaran CTL dengan baik, biar tujuan pembelajaran bisa tercapai dan waktu yang disediakan bisa dimaksimalkan.
  2. Guru harus bersikap tegas untuk membuat suasana yang aman dalam melaksanakan proses pembelajaran CTL.
  3. Dalam pembentukan tim/kelompok, bentuk kelompok hidrogen(pandai, kurang pandai, cepat dan lambat memberi tanggapan).
  4. Upayakan siswa sudah mengerti bahan yang sedang dipelajari dan paham akan langkah model CTL yang diterapkan.

Referensi/Pustaka :
Sudjana, Nana. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung :PT Remaja Rosdakarya.
Sugiyono. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif. Bandung : Alfabeta.
Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Learning dan Aplikasi Paikem. Surabaya : Pustaka Pelajar.
Trianto. 2007. Model - Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik. Jakarta : Prestasi Pustaka.

Sunday, 16 December 2018

Jadi Pintar Rujukan Format Evaluasi Autentik Ma Sma Smk Kurikulum 2013


Pada artikel sebelumnya sudah dijelaskan perihal pengertian, bentuk dan penerapan evaluasi autentik pada kurikulum 2013. Bahwa evaluasi autentik merupakan evaluasi yang mengharuskan siswa untuk menunjukkan pengetahuan, sikap, keterampilan dan kemampuan dalam kondisi yang nyata.

Ketika menerapkan evaluasi autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi berguru penerima didik, guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, acara mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi luar sekolah sesuai dengan jenis evaluasi autentik; adalah evaluasi kinerja, evaluasi proyek, evaluasi portofolio, dan evaluasi tertulis.

Karena itulah kini aku akan membagikan teladan format evaluasi autentik untuk MA Sekolah Menengan Atas Sekolah Menengah kejuruan pada kurikulum 2013 yang mungkin bisa menjadi tumpuan anda para guru.

Sebagai pertimbangan, aku tampilkan filenya pada preview berikut ini:

Contoh Format Penilaian Autentik MA Sekolah Menengan Atas Sekolah Menengah kejuruan Kurikulum 2013



Selengkapnya bisa anda download pada link di bawah ini:
Format evaluasi autentik

Demikian dari aku perihal teladan format evaluasi autentik, biar bermanfaat...

Tuesday, 19 November 2019

Lebih Berakal Download Buku Guru Dan Buku Siswa Kurikulum 2013 Bahasa Indonesia Smp/Mts Kelas Vii Edisi Revisi 2017

Sahabat Edukasi yang berbahagia... Pada semester 2 (genap) di tahun pelajaran 2017/2018 ini, saya akan share links download / unduh gratis Buku Kurikulum 2013 mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk Guru dan Siswa revisi 2017 lengkap. Sebagaimana disampaikan dalam kata pengantar dalam Buku tersebut bahwasannya buku teks mata pelajaran Bahasa Indonesia ditulis dengan tujuan semoga para siswa mempunyai kompetensi berbahasa Indonesia untuk banyak sekali fungsi komunikasi dalam banyak sekali acara sosial. Kegiatan yang dirancang dalam buku diperlukan sanggup membantu siswa menyebarkan kompetensi berbahasa, kognisi, kepribadian, dan emosi siswa. Selain itu, pembelajaran Bahasa Indonesia diperlukan sanggup menumbuhkan minat baca dan minat menulis.


Sehubungan dengan tujuan-tujuan tersebut, pembelajaran Bahasa Indonesia dikembangkan menurut pendekatan komunikatif, pendekatan berbasis teks, pendekatan CLIL (content language integrated learning), pendekatan pendidikan karakter, dan pendekatan literasi. Content Language Integrated Learning menonjolkan empat unsur penting sebagai penajaman pengertian kompetensi berbahasa, ialah isi (content), bahasa/komunikasi (communication), kognisi (cognition), dan budaya (culture).

Buku Guru ini hadir sebagai panduan penting dalam melakukan pembelajaran Bahasa Indonesia untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Buku Guru berisi petunjuk umum dan petunjuk khusus membelajarkan Bahasa Indonesia dengan media Buku Siswa. Petunjuk umum berisi klarifikasi karakteristik pembelajaran Bahasa Indonesia, karakteristik organisasi kompetensi dasar pembelajaran Bahasa Indonesia, karakteristik evaluasi autentik dalam pembelajaran Bahasa Indonesia.

Petunjuk khusus pada tiap penggalan berisi tumpuan pelaksanaan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan media buku siswa. Pada setiap penggalan terdapat tumpuan indikator, tumpuan materi, tumpuan tema yang sanggup dipakai sebagai materi pengembangan materi, tumpuan pengalokasian waktu pada stiap bab, tumpuan langkah pelaksanaan acara pembelajaran, dan tumpuan rubrik evaluasi autentik. Karena bersifat contoh, guru sangat diperlukan untuk sanggup memvariasikan dan menyesuaikan isi Buku Guru dengan konteks daerah, konteks waktu, konteks budaya lokal, dan konteks karakteristik sekolah. Penilaian pengetahuan belum banyak diberikan pada Buku Guru dan guru diperlukan sanggup menyusun evaluasi pengetahuan yang sesuai.

Buku Guru ini penting dibaca oleh guru yang akan membelajarkan Bahasa Indonesia, terutama kelas VII. Buku Guru ini berfungsi memandu guru dalam memakai Buku Siswa untuk mencapai hasil secara maksimal. Pemahaman Buku Guru dan Buku Siswa secara terintegrasi merupakan sebuah keharusan untuk mencapai hasil secara gemilang. Materi dalam buku siswa dan perencanaan pembelajaran dalam Buku Guru hanyalah tumpuan dan sangat terbuka untuk divariasikan sesuai konteks.

Adapun untuk mengunduh / download selengkapnya Buku Kurikulum 2013 Edisi Revisi 2017 untuk Guru dan Siswa SMP/MTs Kelas 7 (Tujuh) untuk semester 1 dan semester 2 selengkapnya silahkan klik pada tombol tersemat dalam tampilan di bawah ini:

1. Download/Unduh Buku Guru SMP/MTs Kelas VII Bahasa Indonesia Edisi Revisi Tahun 2017.


2. Download/Unduh Buku Siswa SMP/MTs Kelas VII Bahasa Indonesia Edisi Revisi Tahun 2017.


Demikian buku kurikulum 2013 edisi revisi 2017 mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk guru dan siswa SMP/MTs Kelas VII edisi revisi tahun 2017 ini saya bagikan. Semoga bermanfaat dan terimakasih... ...!