Showing posts sorted by relevance for query strategi-penanaman-sikap-dalam-kegiatan. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query strategi-penanaman-sikap-dalam-kegiatan. Sort by date Show all posts

Sunday, 24 February 2019

Jadi Bakir Buku Panduan Penanaman Perilaku Akseptor Bimbing Paud Ra Tk


Perkembangan ilmu dan teknologi yang demikian cepat menyebabkan persaingan sumber daya insan demikian tajam makin mengukuhkan bahwa pendidikan di masa depan tidak hanya membekali penerima didik dengan pengetahuan dan keterampilan semata, tetapi yang sangat penting ialah pengembangan aksara yang kuat, gigih, dan kreatif. Dalam pola pengembangan sumber daya insan yang ditetapkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sangat terang bahwa pendidikan di setiap jenjang menyebarkan kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan dengan komposisi yang berbeda. Semakin awal jenjang pendidikan tersebut semakin besar komposisi pengembangan kompetensi sikap.

Sebagai jenjang pendidikan yang paling dasar, Pendidikan Anak Usia Dini dibutuhkan menjadi fondasi besar lengan berkuasa untuk membentuk sikap dan aksara penerima didik. Implementasinya dalam Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini, membangun aksara anak dilakukan dengan penanaman sikap melalui pengembangan kompetensi sikap. Pengembangan kompetensi sikap bukan hanya sebagai imbas ikutan (nurturan) dari pengembangan pengetahuan dan keterampilan, melainkan komponen yang harus direncanakan secara lebih matang dan mendalam yang dilaksanakan secara terus menerus sehingga membentuk kebiasaan lebih lanjut menjadi sikap yang alhasil menjadi sikap dan aksara baik.

Pengembangan kompetensi sikap memerlukan proses yang konsisten dalam jangka waktu lama. Namun, pelaksanaannya tetap diubahsuaikan dengan cara berguru anak usia dini yang dilaksanakan melalui acara menyenangkan dan bermakna.

Hal terpenting dalam pengembangan kompetensi sikap ialah keteladan dari tim guru yang menjadi model bagi anak didik. Tanpa keteladanan pengembangan sikap baik akan menjadi sia-sia. Mengingat begitu pentingnya penanaman sikap dalam proses penerapan Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini, maka dipandang perlu adanya panduan yang sanggup dijadikan teladan inspiratif bagi para guru dalam menanamkan sikap anak didik di Satuan PAUD masing-masing.

Penanaman sikap pada pendidikan anak usia dini mempunyai tugas yang sangat penting dalam membangun aksara anak semenjak dini melalui adaptasi dan keteladanan. Penanaman sikap ini menjadi prioritas utama dibandingkan dengan pengembangan pengetahuan dan keterampilan. Dalam kurikulum 2013 PAUD pengembangan kompetensi sikap meliputi seluruh aspek perkembangan, artinya sikap berada di aspek nilai agama dan moral, fisik motorik, kognitif, sosial–emosional, bahasa, dan seni. Di dalam struktur kurikulum 2013 PAUD pengembangan kompetensi sikap meliputi kompetensi sikap spiritual dan sikap sosial.

Semua itu akan dijelaskan satu per satu untuk beberapa poin berikut yang terdapat dalam buku pedoman ini:
  1. Penanaman Sikap dalam Kurikulum 2013 PAUD
  2. Kompetensi Sikap dalam Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)
  3. Kompetensi Sikap Apa Saja dalam Kurikulum 2013 PAUD
  4. Bagaimana Memaknai Setiap KD Sikap
  5. Penanaman Sikap Sejak Usia Dini
  6. Apa Peran Orangtua dalam Menanamkan Sikap
  7. Peran Guru dalam Penanaman Sikap
  8. Penanaman Sikap dalam Rencana Pembelajaran
  9. Bagaimana Perencanaannya
  10. Strategi Penanaman Sikap dalam Kegiatan Pembelajaran PAUD
  11. Bagaimana Pembudayaannya
  12. Bagaimana Penilaian Hasil Penanaman Sikap

Itu saja sih dari ihwal Buku Panduan Penanaman Sikap Peserta Didik PAUD RA Taman Kanak-kanak yang sanggup anda unduh pada link dibawah ini:

Buku Panduan Penanaman Sikap Peserta Didik PAUD RA TK

Demikian daria kami, supaya bermanfaat...

Jadi Bakir Seni Administrasi Penanaman Perilaku Dalam Acara Pembelajaran Paud


Penanaman sikap tidak sekadar memberi pengetahuan baik dan buruk, tetapi lebih pada menumbuhkan kesadaran dan menerapkan akan nilai baik dan jelek dalam sikap sehari-hari. Oleh alasannya ialah itu, penanaman sikap harus dilakukan secara lembut dan menyenangkan. Suasana dan lingkungan yang kondusif dan nyaman, perlu diciptakan dalam proses penanaman nilai-nilai sikap. Untuk memperdalam pemahaman sikap yang diharapkan, setiap nilai sikap yang telah dimasukkan ke dalam planning pembelajaran harus diterapkan secara berkelanjutan.

Penanaman nilai sikap terus diterapkan dalam bentuk pembiasaan yang direncanakan secara matang oleh satuan PAUD. Sikap yang diterapkan dimasukkan dalam RPPH atau dalam SOP. Misalnya di RPPH hari ini dicantumkan “berdoa sebelum dan setelah makan”. Dalam RPPH ahad depan “berdoa sebelum dan setelah makan” tidak dicantumkan kembali, tetapi dimasukkan ke dalam SOP sehingga aktivitas berdoa sebelum dan setelah makan terus diterapkan setiap kali anak menjelang dan setelah makan di setiap hari dan sepanjang tahun.

5 langkah yang perlu diperhatikan dalam menanamkan sikap pada anak:

  1. Anak dikenalkan dengan sikap dan nilai yang baik dan seharusnya (knowing the good ),
  2. Anak diajak membahas untuk memikirkan dan mengerti mengapa ini baik dan itu tidak baik (the good),
  3. Anak diajak mencicipi manfaat kalau sikap baik itu diterapkan ( feeling the good), dan
  4. Anak diajak melaksanakan sikap yang baik (acting the good).
  5. Anak dibiasakan untuk menerapkan sikap baik dalam setiap kesempatan ( habituating the good).

Contoh sederhana, Guru menanamkan sikap membuang sampah pada tempatnya.

  1. Anak diajak mengamati halaman yang banyak sampah (kotor, banyak lalat, bau, dll.)
  2. Anak diajak bicara wacana apa yang terjadi kalau halaman kotor (lalat yang kotor dapat melekat pada makanan yang mengakibatkan sakit perut).
  3. Anak diajak mencicipi bagaimana rasanya kalau akhir buang sampah sembarangan tersebut menimpa dirinya atau keluarganya. Lalu anak diajak mengambil kesimpulan apa yang harus dilakukan biar akhir buang sampah sembarangan tersebut tidak terjadi.
  4. Bersama-sama membersihkan sampah yang kotor di halaman untuk dibuang ke daerah sampah.
  5. Menyediakan daerah sampah untuk membiasakan anak membuang sampah pada tempatnya.

Penanaman sikap diadaptasi dengan tahapan usia dan perkembangan anak. Semakin muda usia anak maka modeling guru/orang bau tanah menjadi sangat dominan. Pada anak yang sudah lebih besar, pertolongan guru/orang bau tanah untuk membangun kesadaran anak lebih diperlukan.

Jadi Berakal Tumpuan Penanaman Perilaku Baik Pada Pendidikan Anak Usia Dini


Setelah kemarin membagikan strategi penanaman sikap dan membudayakan sikap baik pada anak usia dini, sekarang saya bagikan beberapa teladan penanaman sikap pada siswa PAUD Taman Kanak-kanak RA meliputi: Menanamkan sikap adanya dewa melalui ciptaan-nya, menghargai diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar sebagai rasa syukur kepada tuhan, sikap hidup sehat, sikap ingin tahu, sikap kreatif, sikap estetis, sikap percaya diri, sikap taat pada aturan, sikap mandiri, sikap sabar, sikap peduli, sikap toleran, sikap sopan, sikap tanggung jawab, sikap menyesuaikan diri, dan sikap jujur.

Yuk kita simak beberapa teladan berikut satu per satu yang disebutkan diatas:

1. Mengenalkan sikap “ADANYA TUHAN MELALUI CIPTAAN-NYA”
Kegiatan: Bermain di halaman
  • Guru mengajak belum dewasa ke halaman untuk memperhatikan benda-benda di sekitarnya.
  • Pendidik menanyakan ”apa saja benda yang ditemui anak-anak. Siapa yang membuat bunga, kupu-kupu, kerikil dsb.”
  • Mendiskusikan benda-benda lain ciptaan Tuhan
  • Diskusi kegunaan benda-benda ciptaan Tuhan
  • Diskusi bagaimana kalau benda-benda ciptaan Tuhan tidak ada
  • Mendiskusikan apa yang harus dilakukan biar ciptaan Tuhan yang ada di halaman itu tidak rusak.
  • Guru mencontohkan ucapan takjub ketika melihat ciptaan Tuhan, misalnya, ”...Masya Allah ... cantik sekali bunganya...” atau ” ...Puji Tuhan halus sekali bulu kelinci ini...”, dan sebagainya.
  • Mengajak anak untuk membereskan dan memelihara tanaman yang ada di halaman satuan PAUD.

2. Mengenalkan sikap ” MENGHARGAI DIRI SENDIRI, ORANG LAIN DAN LINGKUNGAN SEKITAR SEBAGAI RASA SYUKUR KEPADA TUHAN”
Kegiatan : berdiskusi perihal bersyukur
  • Guru menunjukkan foto keluarga setiap anak.
  • Guru menanyakan ”yang dirasakan” pada keluarga atau teman.
  • Mendiskusikan perasaan anak bila ada keluarga atau sahabat yang sakit.
  • Mendiskusikan apa yang harus dilakukan pada keluarga dan teman.
  • Mendiskusikan bagaimana caranya mengasihi keluarga dan teman?
  • Guru mencontohkan cara berbicara santun pada orang bau tanah dan teman.
  • Anak diajak berdiskusi sikap yang dilarang dilakukan pada keluarga dan teman
  • Mempraktikkan cara mengucapkan syukur kepada Tuhan sesuai dengan agamanya.

3. Menanamkan sikap “PERILAKU HIDUP SEHAT”
Kegiatan: Memeriksa gigi
  • Guru menunjukkan gambar gigi dan mendiskusikan ”kegunaan gigi”
  • Menanyakan apakah gigi bisa sakit dan bagaimana kalau giginya sakit
  • Mendiskusikan apa yang harus dilakukan biar giginya tidak sakit
  • Mempraktikkan cara menggosok gigi yang benar.
  • Mengajak anak secara bergantian memeriksakan giginya ke dokter kunjung.
  • Selagi menunggu temannya diperiksa, belum dewasa diajak main tebak-tebakan "gunanya melaksanakan sesuatu untuk merawat kesehatan diri" dengan memakai kartu gambar. Misalnya, gambar yang sedang mandi, mandi gunanya untuk .., mencuci tangan gunanya untuk ..., mengelap meja gunanya untuk ..., membuang sampah di kawasan sampah gunanya untuk... dst.

4. Menanamkan “SIKAP INGIN TAHU”
Kegiatan: Bermain dengan magnet Pijakan / Dukungan Guru
  • Guru menyiapkan alat-alat yang akan dijadikan materi praktik contohnya magnet, kaleng, paku, plastik, kertas, daun dll.”
  • Anak-anak diminta untuk mengamati bahan-bahan yang disiapkan
  • Anak dipersilakan untuk mencoba memakai magnet kepada benda-benda yang disediakan
  • Berdiskusi perihal ”benda yang melekat dan yang tidak bisa melekat di magnet ?”
  • Berdiskusi mengapa ada benda yang melekat dan ada benda yang tidak melekat pada magnet?
  • Guru memberi penghargaan ketika anak sanggup mengelompokkan benda yang sanggup melekat dan yang tidak sanggup menempel
  • Anak dipersilakan mencobakan kepada benda lainnya yang ada di ruangan atau halaman.

5. Menanamkan “SIKAP KREATIF”
Kegiatan: Memasak kue
  • Guru menyiapkan bahan-bahan untuk memasak
  • Anak-anak mengamati dan mencicipi bahan-bahan yang tersedia
  • Guru menuliskan resep dengan gambar atau kata sederhana
  • Anak secara bergilir menuangkan materi sesuai dengan resep yang ditulis atau yang dibacakan guru, kemudian gotong royong mengadoni materi tersebut sehingga menjadi gabungan yang siap dibentuk
  • Anak berdiskusi gagasan perihal bentuk gabungan yang akan dibuat oleh anak
  • Guru memberikan hukum bahwa gabungan tidak kotor
  • Anak diperkenankan untuk memakai materi lainnya bila diperlukan
  • Guru mempertajam gagasan anak dengan bertanya,” mengapa ini.. untuk apa.. apa yang terjadi bila..dst”
  • Anak menuangkan gagasan menjadi karya kreatif.
  • Guru membiasakan anak untuk memecahkan masalahnya sendiri bila ia menemukan kesulitan melaksanakan sesuatu
  • Guru memberi dukungan seperlunya dengan sedikit bantuan, teladan atau dengan kalimat, misalnya, "bagaimana kalau begini.. bisa tidak kalau ...."
  • Guru memberi penghargaan pada keberhasilan yang dicapai anak

6. Menanamkan “SIKAP ESTETIS”
Kegiatan: Membangun dengan balok unit
  • Guru membacakan buku dongeng yang sesuai dengan tema
  • Anak dipersilakan memikirkan rencana bangunan yang akan dibuatnya.
  • Guru menunjukkan cara menyusun balok yang rapi sesuai dengan presisinya.
  • Mendiskusi dengan anak mengapa menyusun balok harus rapi.
  • Anak mengemukakan pendapat bagaimana biar hasil karya menjadi rapi dan bersih.
  • Anak membangun gagasannya dengan balok unit.
  • Guru memberikan memakai asesoris untuk menambah keindahan dan keutuhan gagasan.
  • Guru memberikan penghargaan pada setiap hasil karya anak dengan menekankan pada keindahan dan kerapian kerjanya.

7. Menanamkan “SIKAP PERCAYA DIRI”
Kegiatan: outbond
  • Guru mengenalkan acara yang akan diikuti anak
  • Guru memberikan hukum bermain serta alat pengaman yang harus digunakan
  • Mendiskusikan siapa yang akan memulai
  • Guru mendukung semua anak berani mencoba permainan
  • Anak mencoba permainan dengan pengawasan Tim Teknis ahli
  • Setelah selesai semua, guru mengajak mendiskusikan apa yang dirasakan anak ketika mengikuti permainan
  • Guru menghargai setiap perjuangan yang dilakukan anak sebagai proses pembentukan sikap percaya diri

8. Menanamkan “SIKAP TAAT PADA ATURAN”
Kegiatan : Main tugas berkendaraan di jalan raya
Sebelum bermain:
  • Mendiskusikan keadaan di jalan raya
  • Mendiskusikan hukum di jalan raya
  • Mendiskusikan mengapa harus mengikuti aturan
  • Anak memberikan teladan sikap menaati aturan
  • Contoh sikap yang tidak mengikuti aturan
Setelah bermain:
  • Mendiskusikan hukum di satuan PAUD
  • Mendiskusikan teladan sikap yang taat aturan
  • Akibat kalau tidak disiplin mengikuti aturan?
  • Bagaimana menerapkan aturan?
  • Bagaimana kalau ada sahabat tidak disiplin mengikuti aturan?
  • Guru menguatkan sikap taat yang ditunjukkan anak dengan kalimat, contohnya ”Anisa taat pada hukum bermain, alasannya sudah mengembalikan mainan ke tempatnya semula.”

9. Menanamkan “SIKAP MANDIRI”
Kegiatan: Membuat patung dari tanah liat
  • Mendiskusikan materi main dan kegunaannya
  • Mendiskusikan gagasan anak membuat sesuatu dengan tanah liat. Setiap anak dipersilakan membuat sesuai dengan keinginannya untuk membangun kemandirian dalam berpikir
  • Guru mengenalkan kata berdikari dalam bekerja
  • Mendiskusikan arti mandiri
  • Mendiskusikan teladan sikap berdikari ketika bermain
  • Anak membuat karya dengan tanah liat
  • Guru memberi penghargaan pada perjuangan anak untuk bekerja secara mandiri.
  • Setelah acara guru melaksanakan menguatkan dengan menekankan pada sikap berdikari anak, misalnya, "semua belum dewasa ibu sudah bisa mandiri, mengerjakan sendiri tanpa minta dibantu orang lain."

10. Menanamkan “SIKAP SABAR”
Kegiatan : Membacakan buku ceritera
  • Guru membacakan buku yang menceritakan anak sabar
  • Diskusi pemahaman perihal sabar
  • Mendiskusikan mengapa harus bersabar
  • Contoh sikap yang bersabar
  • Apa akhir nya kalau tidak bersabar
  • Bagaimana kalau ada sahabat yang tidak bersabar?
  • Menerapkan sikap sabar ketika bermain, menunggu giliran, menunggu dijemput, dan acara lainnya.
  • Guru menghargai sikap sabar yang ditunjukkan anak dengan cara menguatkan melalui kalimat, misalnya, ”terima kasih kau sudah sabar menunggu dijemput mama tanpa marah-marah.”

11. Menanamkan “SIKAP PEDULI”
Kegiatan: Makan Bersama
  • Guru mempersilakan semua anak duduk di dingklik sekeliling meja. Kemudian meminta mereka untuk memperhatikan siapa temannya yang belum hadir.
  • Guru memastikan semua anak yang sudah duduk sudah mencuci tangannya dengan bersih.
  • Guru mengajak semua anak memperhatikan temannya apakah ada yang tidak membawa bekal?
  • Guru mengajak anak untuk saling membuatkan kuliner yang dibawanya
  • Guru mengucapkan terima kasih alasannya belum dewasa sudah mau membuatkan dan peduli dengan teman.
  • Guru memberikan kepada anak siapa yang akan memimpin doa sebelum makan. Kemudian mempersilakan makan bekal masing-masing.
  • Setelah makan guru mengajak semua anak untuk membereskan dan membersihkan kembali meja dan ruangan dari sisa-sisa makanan.Setelah semua rapi, guru mengajak anak bercerita perihal sikap "peduli"

12. Menanamkan “SIKAP TOLERAN”
Kegiatan: bermain tebak-tebakan dalam kelompok kecil
  • Guru mengajak anak bermain di halaman. Kemudan anak dibagi dalam kelompok kecil.
  • Setiap kelompok membuat harus menebak ciri-ciri yang disampaikan kelompok lain.
  • Guru memperhatikan bagaimana anak membuatkan gagasan dalam kelompok. 
  • d. Guru memperhatikan cara kelompok memilih dan mengambil kesimpulan tentang”benda” yang akan ditebak kelompok lainnya.
  • e. Anak bermain tebak-tebakan. Satu kelompok menyebutkan ciri-ciri, kelompok lain menebaknya.
  • f. Setelah bermain guru menanyakan apa yang dirasakan anak.
  • g. Guru menghargai sikap toleran yang dimunculkan anak ketika berdiskusi, misalnya. ”tadi ibu melihat ketika diskusi kalian saling menghargai pendapat teman. Itu namanya toleransi.”
  • h. Guru memberikan kosakata toleran dan meminta anak untuk memberi teladan sikap toleran.
  • i. Guru memberikan penguatan berupa kata gembira alasannya belum dewasa sanggup mengikuti keadaan dengan lingkungan dan peraturan berbeda.

13. Menanamkan “SIKAP SOPAN”
Kegiatan : Panggung boneka
  • Guru menyiapkan beberapa boneka dan panggung boneka.
  • Anak-anak diminta duduk tertib untuk mengikuti dongeng panggung boneka perihal anak yang sopan.
  • Guru memainkan tokoh boneka sebagai anak yang berperilaku sopan dan boneka yang menjadi tokoh anak tidak sopan.
  • Guru menerapkan kata ”tolong, maaf, terima kasih, permisi.” sebagai teladan sikap sopan dengan nada rendah dan riang.
  • Setelah selesai guru mengajak diskusi perihal tokoh mana yang disukai anak, mengapa..?
  • Guru menanyakan pada anak sikap sopan santun dan apa akhirnya kalau tidak sopan santun
  • Bagaimana kalau ada sahabat yang tidak sopan?

14. Menanamkan “ SIKAP TANGGUNG JAWAB”
Kegiatan : Membereskan kembali mainan
  • Guru mengajak anak merapikan kembali mainan yang sudah dipakai sesuai dengan kawasan semula
  • Setelah selesai anak diajak duduk untuk mengikuti recalling
  • Guru mengucapkan terima kasih alasannya belum dewasa sudah bertanggung jawab mengembalikan mainan ke kawasan semula sehingga ruangan rapi kembali.
  • Guru mendiskusikan pengertian tanggung jawab berdasarkan pikiran anak
  • Anak mendiskusikan teladan sikap tanggung jawab
  • Anak mendiskusikan cara mengajak temannya untuk bertanggung jawab.

15. Menanamkan “SIKAP MENYESUAIKAN DIRI”
Strategi: berbelanja di pasar modern
  • a. Mendiskusikan tujuan dan acara yang akan dilakukan di supermarket
  • b. Mendiskusikan hukum dan sikap yang diharapkan di supermarket
  • c. Mencontohkan bersikap hening selama di situasi dan lingkungan baru
  • d. Mencontohkan sikap memilah yang harus dilakukan dan dilarang dilakukan
  • e. Bersikap sabar dan hening ketika harus mengantri dan menunggu
  • f. Memperlihatkan kehati-hatian kepada orang yang belum dikenal
  • g. Mempersilahkan anak berbelanja sesuai dengan keperluannya dan uang yang tersedia
  • h. Setelah acara guru menanyakan perasaan anak.
  • i. Guru memberikan penguatan berupa kata gembira alasannya belum dewasa sanggup mengikuti keadaan dengan lingkungan dan peraturan berbeda.

16. Menanamkan “SIKAP JUJUR”
Kegiatan: Panggung boneka
  • Guru memainkan boneka tangan dengan tokoh si jujur dan si pembohong.
  • Tokoh si jujur mencerminkan sikap yang tidak berbohong, menghargai miliki teman, mengembalikan benda yang bukan miliknya, mengakui kesalahannya, meminta izin bilamenggunakan benda orang lain.
  • Setelah selesai bersama anak mendiskusikan; pengertian jujur menurut, mengapa harus jujur, teladan sikap jujur dan tidak jujur.

Monday, 18 November 2019

Lebih Cendekia Karya Ilmiah Guru “Penerapan Pendidikan Abjad Pada Siswa Dalam Menumbuhkan Langsung Yang Berakhlakul Karimah” Oleh Hj. Nunung Hanurawati, M.Pd

A. Pendahuluan

1. Latar Belakang

Pemahaman guru terhadap karakteristik penerima didik ini memperlihatkan citra bagi para guru, dari sisi mana potensi penerima didik, kelemahannya sanggup dibantu atau ditumbuhkan dan kelebihan apa yang perlu menerima perhatian untuk dikembangkan. Potensi yaitu kesanggupan, daya, kemampuan untuk lebih berkembang.

Potensi penerima didik yaitu kapasitas atau kemampuan dan karakteristik/sifat individu yang bekerjasama dengan sumber daya insan yang mempunyai kemungkinan dikembangkan dan atau menunjang pengembangan potensi lain yang terdapat dalam diri penerima didik. Setiap penerima didik yaitu individu yang unik. Unik alasannya yaitu mereka mempunyai potensi dan kemampuan yang berbeda antara satu dengan yang lain.

Moral merupakan aspek sikap atau sikap yang sering ditunjukkan penerima didik dari fatwa wacana baik, jelek yang diterima umum mengenai sebuah respon tindakan atau perbuatan yang dalam perspektif agama sering kita kenal dengan istilah akhlak, kebijaksanaan pekerti, susila. sebagai pola prilaku jelek penerima didik yaitu tidak menghargai guru, membuat onar dikelas, sering ribut dengan teman, suka berantem, mengganggu sahabat ketika sedang belajar, usil dan lain sebagainya.

Sedangkan untuk bermoral baik, ditunjukkan sikap sopan, jujur, patuh, taat, yang untuk budaya timur ibarat hormat pada yang bau tanah lewat tutur bahasa yang lembut, menghargai nilai adat istiadat sehingga seseorang bisa dinilai bermoral sudah mulai  menunjukkan atau bahkan sudah menjalankan dengan mempunyai pertimbangan baik jelek dalam perbuatannya baik bagi alam, dirinya, dan orang lain.


Seorang guru yaitu panutan dan pola yang realalita kasatmata dilihat dan diperhatikan tingkah lakunya, mulai dari berjalan, bertutur kata, bahkan marahnya pun diperhatikan oleh penerima didik ibarat Akronim GURU tingkah lakunya harus di gugu dan di tiru. Dengan kata lain ke mana dan di manapun kita berada sejatinya guru harus mempunyai kepribadian yang sopan, santun, dan sebisa mungkin dijadikan cermin bagi penerima didiknya.

2. Tujuan

Dengan menerapkan pendidikan aksara pada siswa diharapkan:

Bertingkah laris sesuai dengan usianya, berkepribadian yang menjunjung nilai moral, sopan dan santun, mengasihi dan menghargai teman, menghormati guru, menghormati yang lebih bau tanah dan mengasihi yang lebih muda.

3. Ruang Lingkup Tulisan

Ruang lingkup dalam goresan pena ini dibatasi dalam 3 hal yaitu:

a. Lingkup keluarga

Merupakan wahana pembelajaran dan adaptasi nilai-nilai kebaikan yang dilakukan oleh orang bau tanah dan orang cukup umur lain di keluarga. Sehingga melahirkan anggota keluarga yang berkarakter.

b. Lingkup satuan pendidikan

Merupakan wahana pembinaan dan pengembangan aksara yang dilaksanakan dengan pendekatan sebagai berikut:
     Pengintegrasian pada semua mata pelajaran
     Pengembangan budaya sekolah
     Melalui kegiatan kurikuler dan ektrakurikuler
     Pembiasaan prilaku dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah

B. Tinjauan Pustaka


Menurut Suyatno Pendidikan aksara yaitu cara berfikir dan berprilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun Negara.

Menurut Kertajaya Pendidikan aksara yaitu ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut yaitu orisinil dan mengakar pada kepribadian benda atau individe tersebut, serta merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berucap, dan merespon sesuatu.

Menurut Thomas Lickona Pendidikan aksara yaitu suatu perjuangan yang disengaja untuk membantu seseorang sehingga ia sanggup memahami, memperhatikan, dan melaksanakan nilai-nilai etika yang inti.
Kesimpulan yang di padukan dari para mahir diatas bahwa Pendidikan aksara yaitu suatu perjuangan yang disengaja untuk membantu seseorang dalam membuatkan potensi untuk memahami dirinya sehingga sanggup berfikir  berprilaku, bekerjasama baik dalam lingkup keluarga, bangsa maupun Negara.

C. Tujuan Penelitian

Membentuk kepribadian siswa lebih baik dan berkarakter sehingga sanggup membuatkan potensi dirinya jauh lebih baik dan berahlakul karimah.

D. Metode Penelitian

Pendidikan aksara sanggup dilakukan dengan banyak sekali pendekatan dan sanggup berupa banyak sekali kegiatan yang dilakukan secara intra kurikuler maupun ekstra kurikuler.Kegiatan intra kurikuler terintegrasi ke dalam mata pelajaran, sedangkan kegiatan ekstra kurikuler dilakukan di luar jam pelajaran.

Strategi dalam pendidikan aksara sanggup dilakukan melalui sikap-sikap sebagai berikut.:   
      
    Keteladanan
    Penanaman kedisiplinan
    Pembiasaan
    Menciptakan suasana yang konduksif

1)   Keteladanan     

Keteladanan mempunyai bantuan yang sangat besar dalam mendidik karakter. Keteladanan guru dalam banyak sekali aktivitasnya akan menjadi cermin siswanya. Oleh alasannya yaitu itu, sosok guru yang bisa diteladani siswa sangat penting. Guru yang suka dan terbiasa membaca dan meneliti, disiplin, ramah, berakhlak contohnya akan menjadi teladan yang baik bagi siswa, demikian juga sebaliknya.

Sebagaimana telah dikemukakan, yang menjadi problem yaitu bagaimana menjadi sosok guru yang bisa diteladani, alasannya yaitu semoga bisa diteladani dibutuhkan banyak sekali upaya semoga seorang guru memenuhi standar kelayakan tertentu sehingga ia memang patut dicontoh siswanya. Memberi pola atau memberi teladan merupakan suatu tindakan yang gampang dilakukan guru, tetapi untuk menjadi pola atau menjadi teladan tidaklah mudah.

Keteladanan lebih mengedepankan aspek sikap dalam bentuk tindakan kasatmata daripada sekedar berbicara tanpa aksi.Apalagi didukung oleh suasana yang memungkinkan anak melakukannya ke arah hal itu.

2) Penanaman atau Penegakan Kedisiplinan  

Disiplin pada hakikatnya yaitu suatu ketaatan yang sungguh-sungguh yang didukung oleh kesadaran untuk menunaikan kiprah kewajiban serta berperilaku sebagaimana mestinya berdasarkan aturan-aturan atau tata kelakuan yangseharusnya berlaku di dalam suatu lingkungan tertentu.Realisasinya harus terlihat (menjelma) dalam perbuatan atau tingkah laris yang nyata, yaitu perbuatan tingkah laris yang sesuai dengan aturan-aturan atau tata kelakuan yang semestinya.
Kedisiplinan menjadi alat yang ampuh dalam mendidik karakter.Banyak orang sukses alasannya yaitu menegakkan kedisiplinan.Sebaliknya, banyak upaya membangun sesuatu tidak berhasil alasannya yaitu kurang atau tidak disiplin.Banyak jadwal yang telah ditetapkan tidak sanggup berjalan alasannya yaitu kurang disiplin.

Kita masih sering terlambat alasannya yaitu sering tidak bisa menepati waktu.Oleh alasannya yaitu itu, betapa pentingnya menegakkan disiplin semoga sesuatu yang diinginkan sanggup tercapai dengan sempurna waktu.Dengandemikian, penegakan kedisiplinan merupakan salah satu taktik dalam membangun aksara seseorang. Jika penegakan disiplin sanggup dilakukan secara berulang-ulang dan terus menerus, maka lama-kelamaan akan menjadi habit atau kebiasaan yang positif.

Menanamkan prinsip semoga penerima didik mempunyai pendirian yang kokoh merupakan potongan yang sangat penting dari taktik menegakkan disiplin.Dengan demikian, penegakan disiplin sanggup juga diarahkan pada penanaman nasionalisme, cinta taha air, dan lain-lain.
Banyak cara dalam menegakkan kedisiplinan, terutama di sekolah. Misalnya dalam mata pelajaran pendidikan jasmani, guru selalu memanfaatkan pada ketika perjalanan dari sekolah menuju lapangan olahraga, murid diminta berbaris secara rapi dan tertib, sehingga tampak kompak dan menarik bila dibandingkan dengan berjalan sendiri-sendiri. Jika hal ini sanggup dilakukan, makapengguna jalan akan menghormati dan mempersilahkan bejalan lebih dahulu, bahkan sanggup mengurangi resiko keamanan yang tidak diinginkan. Nilai-nilai yang sanggup dipetik antara lain kebersamaan, kekompakan, kerapian, ketertiban, dan lain-lain.

Kegiatan upacara yang dilakukan setiap hari tertentu kemudian dilanjutkan dengan investigasi kebersihan dan potong kuku, pengecekan ketertiban sikap dalam mengikuti upacara sanggup dipakai sebagai upaya penegakan kedisiplinan.

Guru sebagai teladan harus tiba pagi dan tidak terlambat. Begitu tiba di sekolah, guru sudah berdiri di depan pintu dan menyambut bawah umur yang tiba dengan menyalaminya.

3) Pembiasaan

Pembiasaa berbaris sebelum memasuki ruang kelas, berdoa sebelum dan setelah belajar, sepuluh menit gerakan membaca, mengangkat tangan apabila akan bertanya atau meminta izin kebelakang, mentaati tata tertib, meminta maaf apabila melaksanakan kesalahan, bertutur kata dengan sopan yaitu beberapa pola adaptasi yang apabila dilakukan akan berdampak lebih baik dan menunjang pembentukan aksara siswa.

4) Menciptakan suasana kondusif

Dalam proses mencar ilmu mengajar suasana aman yaitu dambaan setiap pendidik, alasannya yaitu akan membuat ketercapaian tujuan mengajar atau mendidik, nilai plus yang akan diterima baik oleh siswa ataupun pendidik, suasana yang nyaman tidak mengakibatkan keonaran, kejenuhan, ataupun tidak termotivasinya siswa untuk mencar ilmu yaitu hal-hal yang harus di luruskan oleh seorang pendidik. Itulah pentingnya penerapan pendidikan aksara yang di masukan pada setiap mata pelajaran semoga pembelajaran menerap pada setiap hati penerima didik yang akan menjadi generasi yang mempunyai aksara yang baik sesuai dengan keinginan agama dan bangsa.

E. Hasil Pembahasan

Pendidikan yaitu suatu perjuangan sadar dan sistematis dalam membuatkan potensi penerima didik. Menurut wikipedia Pendidikan yaitu pembelajaran pengetahuan, keterampilan, dan kebiasaan sekelompok orang yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pengajaran, pelatihan, atau penelitian. Pendidikan sering terjadi di bawah bimbingan orang lain, tetapi juga memungkinkan secara otodidak. Pendidikan disini ditujukan kepada siswa sekolah dasar, sebagai bekal kelak supaya berkpribadian baik dan berakhlakul karimah.

Karakter atau watak yaitu sifat batin yang memengaruhi segenap pikiran, perilaku, kebijaksanaan pekerti, dan watak yang dimiliki insan atau makhluk hidup lainnya. Lebih lengkap lagi aksara yaitu nilai-nilai yang khas, baik watak, budpekerti atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi banyak sekali kebijakan yang diyakini dan dipergunakan sebagai cara pandang, berpikir, bersikap, berucap dan bertingkah laris dalam kehidupan sehari-hari.

Penerapan Pendidikan Karakter yaitu perjuangan sadar dan berkala untuk mewujudkan suasana serta proses pemberdayaan potensi dan pembudayaan penerima didik guna membangun aksara langsung atau kelompok yang unik baik sebagai warga negara.

Satuan pendidikan bahwasanya selama ini sudah membuatkan dan melaksanakan nilai-nilai pembentuk aksara melalui jadwal operasional satuan pendidikan masing-masing. Hal ini merupakan prakondisi pendidikan aksara pada satuan pendidikan yang untuk selanjutnya pada ketika ini diperkuat dengan 18 nilai hasil kajian empirik Pusat Kurikulum. Nilai prakondisi (the existing values) yang dimaksud antara lain takwa, bersih, rapih, nyaman, dan santun.

Dalam rangka lebih memperkuat pelaksanaan pendidikan aksara telah teridentifikasi 18 nilai yang bersumber dari agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerja keras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan,Cinta TanahAir,Menghargai Prestasi,  Bersahabat/Komunikatif, Cinta Damai,Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial  Tanggung Jawab, Religius. (Puskur. Pengembangan dan Pendidikan Budaya & Karakter Bangsa: Pedoman Sekolah. 2009:9-10). Nilai dan deskripsinya terdapat dalam Lampiran 1.)

Meskipun telah terdapat 18 nilai pembentuk aksara bangsa, namun satuan pendidikan sanggup memilih prioritas pengembangannya dengan cara melanjutkan nilai prakondisi yang diperkuat dengan beberapa nilai yang diprioritaskan dari 18 nilai di atas. Dalam implementasinya jumlah dan jenis aksara yang dipilih tentu akan sanggup berbeda antara satu kawasan atau sekolah yang satu dengan yang lain. Hal itu tergantung pada kepentingan dan kondisi satuan pendidikan masing-masing. Di antara banyak sekali nilai yang dikembangkan, dalam pelaksanaannya sanggup dimulai dari nilai yang esensial, sederhana, dan gampang dilaksanakan sesuai dengan kondisi masing-masing sekolah/wilayah, yakni bersih, rapih, nyaman, disiplin, sopan dan santun.

Pendidikan aksara yaitu pendidikan yang menekankan pada pembentukan nilai-nilai karakterpada anak didik. Saya mengutip empat ciri dasar pendidikan aksara yang dirumuskan oleh seorang penggagas pendidikan aksara dari Jerman yang berjulukan FW Foerster:

1.   Pendidikan aksara menekankan setiap tindakan berpedoman terhadap nilai normatif. Anak didik menghormati norma-norma yang ada dan berpedoman pada norma tersebut.
2.   Adanya koherensi atau membangun rasa percaya diri dan keberanian, dengan begitu anak didik akan menjadi langsung yang teguh pendirian dan tidak gampang terombang-ambing dan tidak takut resiko setiap kali menghadapi situasi baru.
3.   Adanya otonomi, yaitu anak didik menghayati dan mengamalkan hukum dari luar hingga menjadi nilai-nilai bagi pribadinya. Dengan begitu, anak didik bisa mengambil keputusan sanggup berdiri diatas kaki sendiri tanpa dipengaruhi oleh desakan dari pihak luar.
4.   Keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan yaitu daya tahan anak didik dalam mewujudkan apa yang dipandang baik. Dan kesetiaan marupakan dasar penghormatan atas kesepakatan yang dipilih.

Pendidikan aksara penting bagi pendidikan di Indonesia. Pendidikan aksara akan menjadi basic atau dasar dalam pembentukan aksara berkualitas bangsa, yang tidak mengabaikan nilai-nilai sosial ibarat toleransi, kebersamaan, kegotongroyongan, saling membantu dan mengormati dan sebagainya.Pendidikan aksara akan melahirkan langsung unggul yang tidak hanya mempunyai kemampuan kognitif saja namun mempunyai aksara yang bisa mewujudkan kesuksesan.

F. Kesimpulan dan Saran

Pendidikan aksara hendaknya dirumuskan dalam kurikulum, diterapkan metode pendidikan, dan dipraktekkan dalam pembelajaran. Selain itu, di lingkungan keluarga dan masyarakat sekitar juga sebaiknya diterapkan pola pendidikan karakter. Dengan begitu, generasi-generasi Indonesia nan unggul akan dilahirkan dari sistem pendidikan karakter.

G. Daftar Rujukan

ü Dorothy Law Nolte, Dryden dan Vos, Revolusi Cara Belajar.Terjemahan word Translation service.(Bandung:Kaifa,2000)
ü Heri gunawan, Pendidikan Karakter “konsep dan Implementasi” ( Bandung : Cv.  Alfabeta, 2012)
ü M. Furqon Hidayatullah, Pendidikan Karakter Membangun Peradaban      Bangsa,(Kadipiro Surakarta,2010)
ü Muchlas Samani, Hariyanto, Konsep dan model Pendidikan Karakter,(Bandung:    PT Remaja Rosdakarya 2014)

Penulis : Hj. Nunung Hanurawati, M.Pd. (Guru SDN Kebonsari I Cilegon)

Ingin mengirimkan goresan pena karya orisinil Anda untuk dimuat di Cara Mempublikasikan / Menerbitkan Karya Tulis Gratis Secara Online di www.salamedukasi.com

Monday, 14 October 2019

Jadi Cendekia Makalah Budaya Religi Di Sekolah


A. Budaya Religius di Sekolah. Dari sekian banyak nilai yang terkandung dalam sumber pedoman Islam, nilai yang mendasar ialah nilai tauhid. Ismail Raji al-Faruqi, menformulasikan bahwa kerangka Islam berarti memuat teori-teori, metode, prinsip dan tujuan tunduk pada esensi Islam yaitu Tauhid[1]. Dengan demikian, Pendidikan Agama Islam dalam penyelenggarannya harus mengacu pada nilai mendasar tersebut.

Nilai tersebut memperlihatkan arah dan tujuan dalam proses pendidikan dan memperlihatkan motivasi dalam acara pendidikan[2]. konsepsi tujuan pendidikan yang mendasarkan pada nilai Tauhid berdasarkan an-Nahlawi disebut ”ahdaf al-rabbani”, yakni tujuan yang bersifat ketuhanan yang seharunya menjadi dasar dalam kerangka berfikir, bertindak dan pandangan hidup dalam sistem dan acara pendidikan.

Saat ini, perjuangan penanaman nilai-nilai religius dalam rangka mewujudkan budaya religius sekolah dihadapkan pada aneka macam tantangan baik secara internal maupun eksternal. Secara internal, pendidikan dihadapkan pada keberagaman siswa, baik dari sisi keyakinan beragama maupun keyakinan dalam satu agama. Lebih dari itu, setiap siswa mempunyai latar belakang kehidupan yang berbeda-beda.

Oleh lantaran itu, pembelajaran agama diharapkan menerapkan prinsip-prinsip keberagaman sebagai berikut;

  1. Belajar Hidup dalam Perbedaan
  2. Membangun Saling Percaya (Mutual Trust)
  3. Memelihara Saling Pengertian (Mutual Understanding)
  4. Menjunjung Sikap Saling Menghargai (Mutual Respect)
  5. Terbuka dalam Berfikir
  6. Apresiasi dan Interdepedensi
  7. Resolusi Konflik.

Strategi dalam Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah.


1. Terbentuknya Budaya Religius di Sekolah.


Secara umum budaya sanggup terbentuk secara prescriptive dan sanggup juga secara terprogram sebagai learning process atau solusi terhadap suatu masalah. Yang pertama ialah pembentukan atau terbentuknya budaya religius sekolah melalui penurutan, peniruan, penganutan dan penataan suatu skenario (tradisi, perintah) dari atas atau dari luar pelaku budaya yang bersangkutan.

Yang kedua ialah pembentukan budaya secara terprogram melalui learning process. Pola ini bermula dari dalam diri pelaku budaya, dan bunyi kebenaran, keyakinan, anggapan dasar atau kepercayaan dasar yang dipegang teguh sebagai pendirian, dan diaktualisasikan menjadi kenyataan melalui sikap dan perilaku. Kebenaran itu diperoleh melalui pengalaman atau pengkajian trial and error dan pembuktiannya ialah peragaan pendiriannya tersebut. itulah sebabnya pola aktualisasinya ini disebut pola peragaan.[6]

2. Strategi Pengembangan PAI dalam Mewujudkan Budaya Religius Sekolah.


Menurut Tasfir, taktik yang sanggup dilakukan oleh para praktisi pendidikan untuk membentuk budaya religius sekolah, diantaranya melalui:

  1. Memberikan teladan (teladan)
  2. Membiasakan hal-hal yang baik
  3. Menegakkan disiplin
  4. Memberikan motivasi dan dorongan
  5. Memberikan hadiah terutama psikologis
  6. Menghukum (mungkin dalam rangka kedisiplinan)
  7. Penciptaan suasana religius yang besar lengan berkuasa bagi pertumbuhan anak.[7]

Dengan demikian secara umum ada empat komponen yang sangat mendukung terhadap keberhasilan taktik pengembangan PAI dalam mewujudkan budaya religius sekolah, yaitu: pertama, kebijakan pimpinan sekolah yang mendorong terhadap pengembangan PAI; kedua, keberhasilan kegiatan berguru mengajar PAI di kelas yang dilakukan oleh guru agama; ketiga, semakin semaraknya kegiatan ekstrakurikuler bidang agama yang dilakukan oleh pengurus OSIS khususnya Seksi Agama; dan keempat, pinjaman warga sekolah terhadap keberhasilan pengembangan PAI.

Sedangkan taktik dalam mewujudkan budaya religius di sekolah, meminjam teori Koentjaraningrat ihwal wujud kebudayaan, meniscayakan upaya pengembangan dalam tiga tataran, yaitu tataran nilai yang dianut, tataran praktik keseharian, dan tataran simbol-simbol budaya.[8]

Adapun taktik untuk membudayakan nilai-nilai agama di sekolah sanggup dilakukan melalui:

  1. Power strategi, yakni taktik pembudayaan agama di sekolah dengan cara memakai kekuasaan atau melalui people’s power, Dalam hal ini tugas kepala sekolah dengan segala kekuasaannya sangat lebih banyak didominasi dalam melaksanakan perubahan
  2. Persuasive strategy, yang dijalankan lewat pembentukan opini dan pandangan masyarakat atau warga sekolah; dan
  3. Normative re-educative. Norma ialah aturan yang berlaku di masyarakat. Norma termasyarakatkan lewat education (pendidikan). Normative digandengkan dengan re-educative (pendidikan ulang) untuk menanamkan dan mengganti paradigma berpikir warga sekolah yang usang dengan yang baru.

Pada taktik pertama tersebut dikembangkan melalui pendekatan perintah dan larangan atau reward dan punishment. Allah swt memperlihatkan teladan dalam hal Shalat semoga insan melaksanakan setiap waktu dan setiap hari, maka dibutuhkan eksekusi yang sifatnya mendidik, hal ini sebagaimana sabda Rasulullah saw. ”Perintahkanlah kepada belum dewasa kalian untuk salat saat umur mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka risikonya (tidak mau salat) saat umur mereka sepuluh tahun, dan pisahkanlah tempat-tempat tidur mereka”.[10]

Sedangkan pada taktik kedua dan ketiga tersebut dikembangkan melalui pembiasaan, keteladanan dan pendekatan persuasif atau mengajak kepada warganya dengan cara yang halus dengan memperlihatkan alasan dan prospek baik yang sanggup meyakinkan mereka. Sifat kegiatannya sanggup berupa agresi positif dan reaksi positif. Bisa pula berupa proaksi, yakni menciptakan agresi atas inisiatif sendiri, jenis dan arah ditentukan sendiri, tetapi membaca munculnya aksi-aksi semoga sanggup ikut memberi warna dan arah perkembangan. [11]

Makalah Budaya Religi di Sekolah

DAFTAR PUSTAKA
  1. Ismail Raji al-Faruqi, Islamization of knowledge: General Principles and Workplan, (Washington DC., International institute of Islamic Thoungt, 1982) 34-36
  2. J.S. Brubacher, Modern Philoshophy of Education (Tata Mc. Graw Hill, Publishing, Co. Ltd., New Delhi, Edisi ke-4) : 96
  3. al-Qur’a>n, 2 (al-Baqarah): 208.
  4. Muhaimin, 1999. Paradigma Pendidikan Islam, 294.
  5. Ibid.
  6. Talizuhu Ndara, 2005. Teori Budaya Organisa .(Jakarta: Rineke Cipta) 24.
  7. Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, ( Bandung: Remaja; Rosda Karya, 2004), 112.
  8. Koentjaranindrat, ”Kebudayaan, Mentalitas dan Pembangunan” dalam Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), 157.
  9. Hickman dan Silva () (dalam Purwanto, Budaya Perusahaan, (Yogyakarta Pustaka Pelajar: 1984), 67.
  10. HR. Ahmad, no. Hadith 6689
  11. Muhaimin, 160-167.

Monday, 25 March 2019

Jadi Berilmu Taktik Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini


Pembelajaran yaitu seuatu acara yang meliputi acara mencar ilmu dan mengajar. Kegiatan pembelajaran dilakukian menurut planning yang terorganisir secara sistematis yang meliputi tujuan pembelajaran, bahan pembelajaran dan acara pembelajaran yang meliputi metode dan media pembelajaran, penilaian pembelajaran, dan umpan balik pembelajaran. Suatu trencana pembelajaran dan pelaksanaannya perlu memperhatikan hal-halyang terkait dengan mencar ilmu bagaimana belajar, mencar ilmu bagaimana berpikir, mencar ilmu bagaimana melakukan, dan mencar ilmu bagaimana bekerja sama dan hidup bersama.

Sejalan dengan perkembangan anak usia dini, maka pembelajaran perlu menekankan pada empat aspek tersebut di atas. Hal tersebut menjadi faktor yang kritis dalam perkembangan anak yang bersangkutan. Oleh alasannya itu, pembelajaran yang direncanakan dan dilaksanakan pada forum pendidikan anak usia dini yang dilakukan dalam bentuk banyak sekali acara bermain perlu menekankan pada empat aspek tersebut di atas ditambah dengan aspek-aspek lain, mirip moral, sikap baik sebagai individu, sebagai anggota masyarakat, maupun sebagai makhluk Tuhan sesuasi dengan nilai-nilai keagamaan.

Sifat pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini berlangsung secara stimulan dan holistik, sehingga pendekatan dan desain, serta pelaksanaan pembelajaran anak tersebut terintegrasi secara terpadu.

Di sisi lain, ada hal yang penting yang juga harus diperhatikan oleh pendidik anak usia dini dalam melaksanakan acara mencar ilmu mengajar. Hal penting tersebut yaitu berkaitan dengan metode serta seni administrasi dalam melaksanakan pengajaran bagi anak usia dini. Sukses tidaknya suatu pengajaran bagi anak usia dini di antaranya yaitu tergantung bagaimana seorang pendidik (pengajar) memakai strateginya.

Strategi Mengajar Anak Usia Dini


Ada beberapa seni administrasi dalam pelaksanaan acara pengajaran anak usia dini. Di antara seni administrasi tersebut adalah: (1) Perhatian Intens (2) Beri Dorongan (3) Berikan Umpan Balik Khusus (4) Berikian Model Atau Contoh,(5) Mendemontrasikan, (6) Menciptakan dan menambahkan tantangan, (7) Memberikan cara atau pemberian lainnya, serta (8) Memberikan isu secara langsung. Sedangkan dalam makalah ini akan dibatasi pada empat seni administrasi yang pertama yaitu :

1. Perhatian Intens


Dalam melaksanakan pengajaran seorang guru sebagai pendidik harus bisa memperlihatkan perhatian yang intens terhadap anak didik. Menaruh perhatian khusus terhadap anak semenjak usia dini sanggup membantu mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan berbahasa, serta kemampuan awal membaca dan menulis dengan cara bermain dan bersenang-senang anak juga mulai sanggup mengembangkan kemampuan dasar berhitung, hal-hal konseptual dan kognitif serta konsep-konsep dasar ilmu alam dan pengetahuan teknis lainnya. Beberapa hal penting sanggup mereka peroleh pada ketika bermain mirip kemampuan memahami budaya dan seni, kemampuan memahami mahkluk hidup dan lingkungan sekitar, bangkitnya kesadaran terhadap kesehatan lingkungan, olahraga dan rekreasi.

Selain itu, biar setiap anak bisa memikul tanggung jawab kemajuanbangsa di masa yang akan datang, maka bawah umur (tidak terkecuali) harus mendapat perhatian dan kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial. Perhatian dan pemberian kesempatan tumbuh kembang pada anak usia dini harus merupakan tekad dan agresi yang ditunjukkan oleh keuarga, masyarakat dan pemerintah secara bersama-sama. Upaya ini sekaligus merupakan bentuk proteksi serta mewujudkan kesejahteraan anak dengan memperlihatkan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya tanpa adanya diskriminasi.

Sepanjang rentang kehidupan manusia, masa anak usia dini "periode keemasan atau golden period". Pada masa tersebut terjadi pembentukan dasar-dasar sikap dan sikap serta perkembangan banyak sekali dimensi kecerdasan (inteletual, emosional, sosial, spiritual, kinestetik dan seni) yang intensif. Periode keemasan tersebut hanya berlangsung satu kali di sepanjang rentang kehidupan manusia. Jika potensi-potensi dasar pada periode tersebut kurang memperoleh banyak sekali rangsangan maka tidak tidak mungkin kalau potensi anak akan karam atau tidak berfunsi sama sekali (lost of capacity) ketika ia tumbuh dan berubah menjadi pribadi-pribadi dewasa.

2. Beri Dorongan


Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yangmenyenangkan, yaitu pola asuh yang otoritatif (demokratik). Artinya : pengasuh harus pekaterhadap isyarat-isyarat anak, memperhatikan minat, impian atau pendapat anak, tidak memaksakan kehendak pengasuh, penuh kasih sayang, dan kegembiraan, membuat rasa kondusif dan nyaman, memberi pola tanpa memaksa, mendorong keberanian untuk mencoba berkreasi, memperlihatkan penghargaan atau kebanggaan atas keberhasilan atau sikap yang baik, memperlihatkan koreksi bukan ancaman atau eksekusi bila anak tidak sanggup melaksanakan sesuatu atau ketika melaksanakan kesalahan.Pola asuh otoritatif penting untuk mengembangkan kreativitas anak.

Dengarkan omongan anak dorong anak untuk berani mengucapkan pendapatnya, hargai pendapat anak jangan memotong pembicaraan anak, jangan memaksakan pendapat orangtua atau melecehkan pendapat anak. Rangsanglah anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan perihal banyak sekali hal dilingkungannya, beri kebebasan dan dorongan untuk mengembangkan khayalan, merenung, berfikir, mencoba dan mewujudkan gagasan. Berikan kebanggaan untuk hasil yang telah dicapainya walau sekecil apapun. Jangan menghentikan rasa ingin tahu anak jangan banyak mengancam atau menghukum, beri kesempatan untuk mencoba, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain. Bila anda semenjak dini mendorong Si Kecil untuk membuatkan dan memikirkan orang lain berarti telah membentuk sifat yang baik.

Contoh:
Beri waktu. Buat seorang anak mencar ilmu berpakaian, melepas pakaian, mengancingkan kancing, mengikat tali sepatu, menutup retsleting atau mengancingkan kancing jepret membutuhkan waktu. Mengharapkan si dua tahun menarik celana memang mudah, tapi berharap ia bisa ahli mengikat tali sepatu sebelum ia masuk taman bermain tidaklah realistis. Anda harus terus memberi dorongan atau memotivasinya dengan sabar. Anda harus memberinya cukup membanyak waktu biar ia bisa menuntaskan satu tugas

3. Berikan Umpan Balik Khusus


Seorang pendidik anak usia dini tidak berhenti pada pelaksanaan acara pembelajaran, atau memberikan bahan pembelajaran kepada anak didi. Tetapi pembelajaran tersebut harus ditindak lanjuti dengan melaksanakan umpan balik terhadap anak sesudah selesai mengadakan acara pembelajaran.

Contoh:
Menulis yaitu acara yang membutuhkan keterampilan motorik halus bab tangan. Keterampilan motorik halus bab tangan akan melibatkan banyak otot kecil: jari jemari, telapak tangan dan pergelangan tangan.

Ketika usia si kecil menginjak tahun kedua, sirkuit otak yang mengendalikan dan mengkoordinasikan gerakan tangannya masih berkembang pesat mirip di tahun pertama usianya. Di samping itu, bab otak lain yang berjulukan serebelum juga mulai berkembang. Serebelum bertugas mengatur waktu dan koordinasi untuk hampir semua kiprah motorik.

Latihan penting sekali untuk meningkatkan keterampilan motorik halus anak batita. Latihan menyerupai 'umpan balik' bagi otak mereka. Makin sering si kecil berlatih, makin pesatlah perkembangan sirkuit otaknya, dan makin baguslah kemampuan si kecil mengontrol dan mengkoordinasikan motorik halusnya.

4. Berikian Model Atau Contoh


Mengajarkan nilai kehidupan , kemanusiaan ,budaya dan pengembangan moral pada anak usia dini membutuhkan keteladanan dari orangtua, guru dan masyarakat . dan penanaman ini tidak hanya berlangsung dirumah saja tetapi juga berlangsung disekolah dan masyarakat . sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan potensi penerima didik biar menjadi insan yang beriman, bertaqwa, kepada tuhan YME berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, sanggup berdiri diatas kaki sendiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Contoh dalam pelajaran sosial contohnya dalam nilai kehidupan dan kemanusiaan yang ingin ditanamkan bagaimana hidup rukun di dalam keluarga, masyarakat berkasih sayang antar anggota keluarga, memelihara kebersihan lingkungan. mengajarkan nilai kebudayaan misal di kawasan Jakarta siswa harus tahu asal mula ondel-ondel terbuat dari apa, gunanya buat apa dan bagaimana cara memeliharanya.

Sedangkan mengajarkan pengembangan moral bagaimana bersikap kepada yang lebih bau tanah dan muda, dan yang paling penting seni administrasi mengajarkan nilai kehidupan, kemanusiaan, budaya dan moral pada anak usia dini kita harus memperlihatkan teladan atau pola terlebih dahulu kalau ingin anak kita sopan maka harus terlebih dahulu orangtuanya sopan lantaran anak usia dini itu melihat pola dari keluarga, masyarakat/lingkungan dan memang sedang berada pada proses imitasi atau meniru. Dan inipun harus berlangsung secara kontinu dan konsisten dari pendidik dan praktisi sosial.

Orangtua yaitu guru terbaik bagi anak termasuk ketika mengajarkan cara mengekspresikan emosi. Berikan pola pada bawah umur sikap yang sesuai ketika sedang murka atau sedih. Berikan pula beberapa pilihan lain bagaimana cara mengekspresikan kemarahan, kegembiraan atau kesedihan.
Kembangkan sikap bertanggung jawab pada anak. Misal, jikalau anak menumpahkan minuman minuman ke lantai, maka ia harus membersihkan sendiri. Sebelumnya berikan pola dan klarifikasi mengapa ia harus melaksanakan itu.

Dari uraian di atas kiranya sanggup ditarik kesimpulan bahwa dalam melaksanakan acara pembelajaran ada faktor yang sangat penting yang harus diperhatikan oleh pendidik anak usia dini. Keberhasilan pembelajaran khususnya dan pendidikan pada umumnya harus memperhatikan strateginya.

Referensi
  • Depdikas RI, Buletin PADU (Jurnal Ilmiah Anak Usia Dini Edisi 03 Desember 2002), Jakarta, 2004
  • Gunarso, D. Singgih, Dasar dan Teori Perkembangan Anak, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006
  • Hapidin, Model-Model Pendidikian untuk Anak Usia Dini, Jakarta: Ghiyats Alfiani Press, 2006
  • Jamaris, Martini, Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-Kanak, Jakarta: Grasindo, 2006
  • Santoso, Sugeng, Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta: Citra Pendidikan, 2004